Beberapa tahun belakangan, saya dan beberapa teman saya yang tergolong dalam sebuah grup terinspirasi untuk mendirikan dan mengelola yayasan. Sayangnya, masih belum kesampaian karena kesibukan masing-masing (alibi.. haha).

Ternyata eh ternyata, di sekeliling saya banyak juga teman bahkan senior di kantor yang sudah mendirikan dan mengelola yayasan dalam berbagai bentuk seperti petisi, movement foundation, care, philantrophy or apapun itu, baik formal maupun non formal. Tidak perlu saya sebut namanya, yang pasti saya bangga dengan segala yang dimulai untuk berbagi dengan sesama dalam bentuk apapun.

hand help yayasanAniwei, kami juga ingin mendirikan yayasan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Syukur-syukur nantinya bisa sebesar Ancora Foundation yang didirikan oleh Bapak Gita Wirjawan.

Jadi, memang kami belum mendirikan yayasan. Tapi kalau toh boleh sharing, berikut adalah 3 (tiga) dasar yayasan yang kami anggap sangat diperlukan sebagai berikut:

1. Kelangsungan Usaha Yayasan Untuk Selamanya

Saya ingin mendirikan yayasan yang begitu dia didirikan, dia bisa hidup hingga selamanya. Susah memang, tapi setidaknya saya tidak ingin mendirikan yayasan hanya atas dasar pertemanan, angkatan, usaha yang terbatas dengan usia, waktu, lokasi, emosi dan lainnya. Read the rest of this entry »

Hari Sabtu sore kemarin, saya membaca tulisan-tulisan Bapak Dahlan Iskan (yang saya yakin dimuat juga di Jawa Pos tanggal 23 Februari 2015) mengenai Soal Daging yang Ibarat Dokter Salah Resep.

Sebelum melanjutkan untuk membaca tulisan ini, sudilah kiranya untuk membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan tersebut diatas.

Pada intinya, Bapak Dahlan Iskan menyampaikan bahwa permasalahan pasokan daging sapi dan upaya untuk penggemukan sapi di Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Sumba, adalah bukan karena tidak adanya jalur tol laut, tapi pada permasalahan sosial budaya dan keamanan. Dan hal ini baru diketahui oleh Bapak Dahlan Iskan, pada bulan Januari 2015 yang lalu.

Saya sedikit tersenyum. Kecut.

ternak-sumba-timur-10

Kecut, karena hal ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama dan saya sendiri mengetahui hal ini sudah sejak awal saya ditempatkan di wilayah NTT, tepatnya sekitar tahun 2011.

Sebelum saya melanjutkan lebih jauh, saya ingin memberitahukan sedikit mengenai geografis wilayah NTT. Wilayah NTT terdiri dari 3 (tiga) pulau besar yakni Pulau Flores, Pulau Timor (berbatasan dengan Timor Leste), dan Pulau Sumba.

NTT map 2

Pulau Sumba adalah pulau dengan padang rumput yang sangat-sangat amat luas. Sebenarnya padang rumput di NTT tersebar di seluruh pulau, namun kontur Pulau Sumba yang datar, dibandingkan dengan pulau lainnya, menyebabkan padang rumput di Pulau Sumba lebih potensial untuk digunakan sebagai tempat budidaya peternakan dibanding dengan pulau di NTT yang lainnya. Tidak ada potensi ekonomi seperti tambang di lokasi ini, usaha utama masyarakatnya adalah pertanian, perikanan dan peternakan.

Read the rest of this entry »

Semua yang ada pada hidup kita itu punya trade off. Pasti. Tidak ada hal yang didunia ini bisa kita capai tanpa pengorbanan pada suatu sisi.

Pada ilmu ekonomi, yang saya pelajari dulunya pada saat in class training – secara kan saya seorang Engineer yang pastinya tidak pernah belajar ekonomi di ruang kuliah – ada salah satu topik pembahasan yang disebut dengan impossible trinity atau trilemma bagi sebuah bank sentral. Kalau dilemma itu diartikan sebagai diantara dua pilihan, trilemma ini secara gampangnya dapat diartikan sebagai diantara tiga pilihan.

Diantara tiga pilihan bagi bank sentral tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kebijakan nilai tukar yang ditetapkan pada nilai tertentu
  2. Arus modal bebas keluar masuk
  3. Kebijakan moneter independen – yang sesuai dengan kondisi dalam negeri

Dari tiga pilihan tersebut, kita hanya bisa memilih 2 pilihan. 3 hal tersebut seluruhnya tidak dapat dicapai secara bersamaan. Anda harus mengorbankan hal ke-3 dalam usaha untuk pencapaian 2 hal lain yang Anda kejar. Ilustrasi trilemma tersebut sebagaimana gambar dibawah:

trilemma kebijakan

Pada saat ini, Kebijakan moneter Bank Indonesia sebagai bank sentral indonesia adalah Kebijakan Moneter yang Independen dan Arus modal bebas. Dampak dari kebijakan tersebut adalah berfluktuasinya nilai tukar Rupiah.

Menurut saya pribadi, kebijakan tersebut adalah kebijakan yang terbaik untuk kondisi saat ini mengingat apabila kebijakan yang diambil adalah kebijakan untuk melakukan capital control, maka dampaknya adalah semakin menurunnya jumlah investasi asing ke dalam negeri yang saat ini sangat amat dibutuhkan oleh Indonesia.

Nah, dari situ saya juga belajar bahwa ternyata banyak juga trilemma lainnya yang kita hadapi di kehidupan sehari-hari. Setidaknya, dalam kehidupan saya terdapat 5 (lima) trilemma lainnya yang pernah saya alami sendiri. Read the rest of this entry »

Akhir-akhir ini, Menteri Kabinet Kerja Presiden Jokowi bergantian memenuhi headline Media. Setelah sebelumnya Ibu Susi menjadi Media Darling, kali ini Pak Jonan yang kena batunya. Hampir semua media, saat ini turut mengkritik langkah kebijakan Pak Jonan terkait dengan batas bawah tarif penerbangan domestik.

Saya pun turut mengkritik pak Jonan terkait dengan batas bawah tersebut, saya berpendapat bahwa tidak perlu ada batas bawah, toh kalau nantinya pesawat yang menawarkan harga murah itu sering jatuh, tidak akan ada lagi penumpang yang mau naik. Setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin saya terlalu liberal, saya sadar bahwa ada nyawa manusia yang harus dipertaruhkan terkait harga murah tersebut.

Kembali ke topik utama, adakah diantara kita yang sudah melihat kebijakan dari pak Jonan dan tidak hanya mendengar dari media? Kebijakan Pak Jonan yang menetapkan batas bawah tarif penerbangan diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 91 Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2014 tentang Mekanisme Formulai Perhitungan Dan Penetapan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Pm Menhub No. 91 2014

Ketentuan tersebut hanya merubah pasal 9 terkait dengan tarif minimum angkutan yang sebesar 40% dari tarif batas atas.

Sebelum kita mengkritik hal tersebut, perlu kita baca dulu perubahan pertama dan ketentuan awal dari peraturan yang diubah oleh Pak Jonan. Read the rest of this entry »

Wacana untuk penghapusan premium oleh Tim Pemberantasan Mafia Migas cukup menggugah hati saya yang saat ini masih tinggal di Indonesia bagian Timur. Wacana penghapusan premium tersebut pada intinya adalah meniadakan Premium (Oktan 88) bersubsidi dan menggantinya dengan Pertamax bersubsidi.

Menurut Tim, manfaat dihapuskannya Premium tersebut adalah untuk memberantas penyelundupan bahan bakar bersubsidi jenis tersebut. Saya merasa perlu untuk menyampaikan tulisan ini mengingat adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara Pertamax di Pulau Jawa dibandingkan dengan Pertamax di luar Pulau Jawa. Saya yang untuk sementara ini tinggal di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara sangat merasakan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengisi bahan bakar kendaraan akibat tingginya harga Pertamax yang mencapai sebesar Rp12.450. Bandingkan dengan harga Pertamax di Pulau Jawa yang cuman sekitar Rp10.000-an.

Harga Pertamax Kupang

Harga Pertamax Kota Kupang tanggal 29 Desember 2014

Bayangkan kalau di tengah-tengah kemiskinan yang ada di Indonesia bagian Timur, mereka masih diharuskan lagi untuk menanggung beban harga BBM dari sebelumnya Rp8.500/literr (Premium bersubsidi) menjadi sekitar Rp11.450/liter (pertamax bersubsidi Rp1.000/liter, nantinya: sumber baca di sini). Dengan tingginya inflasi di Indonesia bagian Timur yang umumnya selalu di atas nasional, apalagi dengan kenaikan harga BBM tersebut sekitar Rp2.950 (dari Rp8.500 ke Rp11.450) bisa dibayangkan betapa menderitanya rekan-rekan kita di Indonesia Timur yang juga merupakan masyarakat Indonesia yang perlu kita perhatikan. Udah miskin, disuruh makin miskin lagi. Ya kalau di Pulau jawa sih harganya ga terlalu jauh berbeda. Read the rest of this entry »

Melemahnya nilai tukar rupiah saat ini banyak sekali dibahas di media. Media cetak, media online dan media sosial pun turut serta memperbincangkan permasalahan pelemahan nilai tukar rupiah. Kali ini saya juga akan membahas mengenai permasalahan nilai tukar tersebut.

Dulu saya pernah membahas mengenai konsep nilai tukar tersebut di tulisan saya pada awal tahun ini: Toko roti dan nilai tukar.

Disitu juga saya ikut menjelaskan bahwa bank sentral dan cadangan devisanya memiliki peran penting dalam pengelolaan nilai tukar. Saya sedikit tidak terima kalau dikatakan bahwa Bank Sentral kita yakni Bank Indonesia (BI) dikatakan atau diberitakan tidak mampu mengelola nilai tukar. Justru sebaliknya, Dewan Gubernur BI sangat siap sedia di pasar untuk mengelola nilai tukar, mendorong penguatan maupun pelemahan rupiah sesuai dengan kebutuhan dan perkiraan ke depan.

Anda bisa saja berdebat dengan judgment dari Gubernur BI, but you have no power like him. Indeed, kalau Anda ingin model/proyeksi yang simpel untuk memperkirakan nilai tukar rupiah selama beberapa tahun ke depan, maka gunakanlah perkiraan nilai tukar BI, ditambah dengan deviasi error, plus ataupun minus, agar kita tahu bahwa Gubernur BI adalah bukan Tuhan (sama-sama manusia seperti kita). Read the rest of this entry »

Hello.

Hari ini saya sedikit terhenyak dengan pemberitaan yang tidak sesuai di media sosial tentang Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).  Antara lain pemberitaan berikut.

Saya ingin mencoba memberikan pandangan lain mengenai kenaikan NJOP dan PBB. Saat ini, kewenangan pengenaan nilai NJOP dan PBB ada di daerah. Kenapa? karena hal tersebut sesuai dengan UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam undang-undang tersebut ditetapkan bahwa Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dialihkan menjadi pajak kabupaten/kota (sebelumnya pajak pemerintah pusat) dan mulai berlaku secara efektif pada tanggal 1 Januari 2011.

sppt-pbb-njop

Kenapa kok saya berani untuk mencoba memberikan pandangan terkait dengan hal tersebut? Hehe. Begini ceritanya, beberapa minggu yang lalu tepatnya tanggal 6 Oktober 2014, ada Project Officer dari Asian Development Bank (ADB) – Ibu Deeny Simanjuntak – yang berniat untuk bertemu dengan Walikota Kupang. Nah, kebetulan sekali, beliau adalah teman satu angkatan di Bank Indonesia dari kepala kantor saya, namun mengundurkan diri karena menikah dengan sesama pegawai Bank Indonesia. Pertemuan tersebut adalah untuk membicarakan mengenai progress pengalihan dan strategi peningkatan BPHTPB di Kupang.

Kebetulan lagi, teman saya mengatur pertemuan Ibu Deeny dengan Bapak Walikota Kupang dan saya yang mengantar Ibu Deeny untuk berbincang dengan Bapak Walikota Kupang. Tidak hanya Walikota, tetapi juga Sekretaris Daerah Kota Kupang dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kota Kupang (Kadispenda). Disitulah Ibu Deeny bercerita mengenai strategi peralihan dari BPHTB atau mudahnya kita sebut dengan NJOP dan PBB tersebut diatas. Tidak lupa, Ibu Deeny juga memuji strategi dan keberanian dari Pemprov DKI Jakarta (!!!!) yang juga sukses dalam peralihan dan pengenaan NJOP dan PBB di Jakarta. Read the rest of this entry »

Beberapa minggu yang lalu, saya hadir untuk mengikuti Stanford Business School Information Session di Jakarta. Why? karena saya tertarik untuk kuliah di luar negeri. Di Stanford kah? Jawabannya nanti ada di akhir cerita ini =)

Mari kita mulai ceritanya.

Stanford Business School Information Session adalah salah satu hal yang dilakukan Stanford untuk menjaring minat pendaftar di Seluruh Dunia. Information Session tersebut dilakukan secara berkeliling di negara-negara terpilih di beberapa benua. Kebetulan Indonesia adalah salah satu negara yang terplilih untuk dikunjungi oleh Stanford dengan lokasi penyelenggaraan adalah di Jakarta. Tepatnya di Universitas Bakrie. Why? Karena salah satu pemilik Universitas Bakrie yakni Anindya Bakrie adalah Alumni Stanford Business School class of 97.

Acara Stanford Business School tersebut dilakukan pada sekitar pukul 16.00 di awal bulan Agustus 2014.

Waktu itu, saya datang paling awal dibandingkan dengan yang lainnya. Pada saat saya datang, hanya ada 3 orang di dalam ruangan yakni Pasangan suami istri dan admission staff (perempuan) dari Stanford Business School. Pasangan suami istri tersebut berasal dari Malaysia, dengan usia sekitar 35 tahun. Suaminya bertubuh besar dan saat ini bekerja di Petronas.

Saya pun berbincang dengan mereka. Saat itu pulalah saya merasa banyak hal yang perlu saya perbaiki dari kemampuan Bahasa Inggris saya. It felt rusty. Kenapa? saya mengamatinya dari raut muka mereka ber tiga yang aneh ketika saya berbahasa Inggris. Haha =|

Selanjutnya, tidak sampai 30 menit saya menunggu, peserta berdatangan hingga memenuhi ruangan. Acara pun dimulai. Acara dimulai dari pemberian informasi dari Admission Staff selama 15 menit dan dilanjutkan dengan 3 pembicara tamu yakni alumni Stanford dari Indonesia.
Read the rest of this entry »

Menikah adalah awal hidup baru yang berbahagia bagi semua orang. Ternyata tidak hanya kebahagiaan yang ikut serta, banyak juga persoalan yang menimpa pasangan yang telah menikah. Permasalahan bagi pasangan yang telah menikah antara lain adalah permasalahan keuangan. Bahkan beberapa survey menyebutkan bahwa salah satu alasan perceraian adalah karena adanya permasalahan keuangan di keluarga. Permasalahan keuangan tersebut bisa disebabkan karena kurangnya persiapan atau karena ekspektasi yang berlebihan.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah mulai membicarakan rencana ke depan dengan pasangan baru anda dalam mengarungi hidup? Jika anda berfikir demikian, maka hal tersebut adalah langkah pertama yang tepat. Hal yang paling penting dalam merencanakan keuangan bersama pasangan adalah merubah mindset atau lifestyle (gaya hidup). Merencanakan keuangan bagi seseorang yang single dan married tentu adalah hal yang jauh berbeda. Oleh karena itu, mindset adalah hal yang pertama harus diubah.

Pasangan yang baik adalah pasangan yang saling terbuka. Anda sebagai calon istri tentunya tidak mau menikah dengan calon suami yang memiliki hutang dalam jumlah banyak atau suka bermain judi. Pasangan harus saling terbuka terkait dengan keuangan masing-masing. Memang terdapat beberapa pasangan yang beranggapan bahwa uang merupakan hal yang kurang nyaman dibicarakan bersama karena dianggap sebagai obrolan pribadi. Jika Anda dan pasangan merupakan salah satu darinya, cobalah untuk perlahan-lahan merubah keadaan tersebut. Perencanaan keuangan akan jauh lebih mudah dilakukan jika pasangan suami istri yang mau terbuka satu sama lain. Read the rest of this entry »

Pada bulan Agustus 2014 yang lalu, saya memecahkan rekor pribadi saya untuk gowes sejauh total 101 km selama 14 hari. Untuk penghobi sepeda kelas berat, mungkin jarak sejauh itu dapat ditempuh dalam waktu 4-5 jam gowes full. Yah, mengingat saya saat ini juga bekerja dan sering pulang diatas maghrib, agak susah bagi saya untuk mencari waktu untuk gowes.

Sebenarnya, saya sudah menjadi pesepeda sejak akhir tahun 2012. Sepeda saya adalah sepeda MTB Xtrada 5 sebagaimana gambar berikut:

polygon xtrada 5 2015

Setelah selama hampir 2 tahun menjadi weekend cycling, saat ini saya semangat untuk gowes untuk menjaga stamina. Tujuannya adalah untuk dapat bangun larut malam menemani istri saya yang waktu itu sedang hamil dan sekarang Alhamdulillah sudah melahirkan anak putri yang cantik =)

Aniwei, saya ingin sharing mengenai 5 hal yang saya pelajari selama bersepeda. Hal ini saya harapkan akan dapat bermanfaat bagi anda yang tertarik untuk bersepeda atau baru memulainya.

Beli sepeda mahal = biaya maintenance tinggi.

Beberapa minggu lalu, saya mengalami kejadian yang tidak mengenakkan ketika bersepeda yakni terdapat 2 (dua) mata rantai yang bengkok. Saya kira murah saja untuk mengganti rantai yang baru. Ternyata harga rantainya jauh lebih mahal daripada rantai Motor. Harga rantainya sampai Rp250 ribu/seperempat juta (termasuk ongkos pasang). Gila kali ya.

Sejak itu saya berfikir, sepeda saya yang tergolong sepeda amatir (Polygon Xtrada 5.0) saja biaya perawatannya mahal apalagi sepeda pro. Analoginya mungkin sama dengan biaya perawatan motor Yamaha Mio dibandingkan dengan Kawasaki Ninja 250. Saya pun mengurungkan niat untuk membeli sepeda mahal.. Haha..

Kalau misalnya ada pembaca yang tertarik untuk membeli sepeda mahal >Rp20 juta, selalu ingat bahwa harga sepeda berbanding lurus dengan maintenance cost-nya.

Selalu lakukan pemanasan sebelum bersepeda.

Pemanasan adalah hal harus selalu dilakukan sebelum anda bersepeda. Semua pesepeda, baik yang sudah pro, selalu melakukan pemanasan sebelum memulai naik sepeda. Kenapa? bersepeda adalah aktivitas yang cukup berat apalagi jika menempuh jarak yang cukup jauh. Read the rest of this entry »