Archives for category: Kehidupan

I have officially been a scholarship hunter since May 2016. I took an english test (IELTS) in May 2016 and since then declared myself as a scholarship hunter. Beberapa teman telah berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dari pemberi beasiswa terkenal di indonesia dan dunia antara lain Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Chevening, dan Fulbright. Ekspektasi awal dalam mencari beasiswa adalah “tidak terlalu sulit”. Kalau teman-teman saya bisa, kenapa saya enggak?

scholarship

Keinginan untuk berangkat kuliah dan meniti ilmu adalah karena adanya kebutuhan pendidikan formal di bidang keuangan untuk meningkatkan kompetensi sehingga bisa berkontribusi lebih baik terhadap sektor di mana saya bekerja. Background keilmuan teknik yang dimiliki menyebabkan adanya gap pengetahuan untuk dapat memahami hal yang lebih advanced di bidang keuangan. Ada terselip sedikit niat-niat lain disamping niat utama tersebut. Tapi niat-nya adalah baik. Dan tidak, kuliah ke luar negeri bukanlah untuk jalan-jalan.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Hai, long time no write. Saya melanggar janji untuk update minimal 1 tulisan setiap bulannya. Semoga bisa rutin lagi ke depannya.

Aniwei, beberapa minggu yang lalu, saya mengikuti kegiatan pelatihan kepemimpinan berjenjang tingkat paling dasar dari institusi saya. Pelatihan ini diberikan bagi manajer baru untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan mereka. Undangan untuk mengikuti pelatihan ini sebenarnya sudah datang kurang lebih 2 (dua) kali sejak tahun 2016. Sayangnya, waktu itu banyak kegiatan kantor dan (mungkin) rendahnya kesadaran atas manfaat kegiatan pelatihan tersebut.

Tak ada kata terlambat. Ternyata mengikuti kegiatan pelatihan tersebut luar biasa manfaatnya. Rasanya sangat bahagia bisa mengikuti kegiatan pelatihan tersebut. Lebih-lebih pelatihan ini menyadarkan diri sendiri yang ternyata masih jauh dari kata efektif 🙂

I felt sad for what I achieved at work last year. For me, personally, 2017 is a year to forget. Yang pasti, Pengalaman dan pelatihan leadership menjadi momen refleksi atas segala hal yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, pengalaman tersebut dan rencana kegiatan yang akan dilakukan ke depan akan diunggah dalam beberapa seri tulisan tentang leadership. Mungkin ini akan menjadi tulisan yang dibagi menjadi 5 atau 7 seri.

I quoted Ray Dalio’s word from his Principles book.

In good times, you complacent. Only in bad and great times, you learn.

I have my bad times last years. Itulah kenapa saya merasa banyak pembelajaran yang saya alami saat ini.

Singkatnya, di tahun lalu I failed in several aspects at work, one of them is people development, and I failed to be myself. Saya gagal dalam bekerja dengan baik sesuai dengan standar dan prinsip yang saya anut. Mungkin kalau saya menilai diri saya di posisi sebelumnya, saya bisa menerima hasil pekerjaan saya. Tapi apabila saya menilai hasil kerja saya di posisi saat ini, disitu saya merasa sedih. Tanpa terlalu merasa rendah diri, sedikit banyak, saya merasa cukup sukses dalam mengembangkan diri sendiri. Tapi dalam mengembangkan orang lain, nilai saya Nol Besar.

Tahun lalu, saya berhasil untuk mengembangkan diri saya di berbagai hal. Saya ikut les bahasa inggris dan berhasil meningkatkan nilai sebesar 0.5 band di IELTS pada Februari 2018 yang lalu, mampu memperbaiki catatan waktu lari untuk 5k dari 30 menit menjadi 25 menit, gowes sejauh 156 km melintasi suramadu, ikut student concert di tempat les piano, dan banyak hal lainnya. I have invested too much time on improving my self. Tidak sadar bahwa tugas ataupun bekerja menjadi seorang pemimpin jauh lebih besar daripada hanya self development. Apa sih sumber permasalahannya? terlalu percaya diri, terlalu naif, terlalu loose, kurang beribadah? atau mungkin… Saya gagal menjadi diri saya sendiri?

Read the rest of this entry »

Pernah dengar biro tur umroh “First Travel”? Kalau anda atau rekan anda ada yang ingin atau telah berangkat umroh, kemungkinan besar anda akan pernah mendengar nama biro tur tersebut. First Travel menjadi terkenal karena mereka menawarkan paket umroh yang sangat murah yaitu hanya sebesar Rp14-15 juta per orang. Sayangnya, nama besar “First Travel” mengalami guncangan beberapa saat yang lalu. Tidak lain dan tidak bukan karena mereka ingkar janji memberangkatkan jemaah yang telah mendaftar dan membayar untuk umroh.

Haaa? Kok bisa? Pada intinya mereka ingkar janji untuk memberangkatkan jemaah yang telah membayar meskipun jemaah tersebut telah menunggu setahun lamanya. Selengkapnya baca saja di sini: polemik keberangkatan umroh di First Travel. Perlu kita ketahui bahwa model bisnis First Travel: adalah anda bayar murah sekarang, untuk berangkat umrah 12 – 20 bulan yang akan datang.

Apa yang salah dengan model bisnis First Travel? kita perlu mengkritisi 2 bagian dari model bisnis dimaksud. Pertama, bagaimana dia bisa menetapkan harga yang sangat murah, hanya Rp15 juta, sedangkan pesaingnya mengenakan harga sampai dengan Rp19 juta untuk layanan yang sama. Kedua, kenapa kita harus menunggu berangkat umroh selama 12-20 bulan setelah membayar lunas?

Read the rest of this entry »

Sebelum memulai penjelasan dari sudut pandang saya terkait dengan Down Payment (DP) 0% yang sekarang sedang menjadi perhatian publik, saya ingin rekan menjawab pertanyaan ini: apa aset riil/fisik terbesar yang anda miliki? (selain tabungan dan deposito di bank). Mayoritas pembaca akan menjawab: Rumah atau Kendaraan Bermotor. Bagi yang masih belum punya rumah biasanya akan menjawab kendaraan bermotor. Kalau misalnya aset terbesar anda adalah tas Hermes, cincin berlian, kapal pesiar, atau helikopter maka anda bisa stop membaca sampai disini.

rumah

Kalau aset terbesar anda adalah rumah atau kendaraan bermotor, yuk mari kita lanjutkan pembahasan terkait dengan Rumah dan DP 0%.

Rumah sebagai aset terbesar

Bagi mayoritas masyarakat di Indonesia (bahkan di Dunia), 2 (dua) hal yang saya sebutkan di atas mendominasi aset atau harta kekayaan mereka. Rumah dan mobil yang dimiliki oleh masyarakat pada umumnya juga diperoleh melalui kredit dari Bank. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Yang salah adalah kalau dikemudian hari terjadi gagal bayar atas kredit tersebut.

Tahukah anda mengapa krisis di Amerika Serikat berdampak sangat dalam bagi masyarakat di sana? Tidak lain dan tidak bukan karena rumah adalah aset terbesar yang kita miliki. Selengkapnya anda bisa baca di sini. Bayangkan kalau misalnya anda kehilangan rumah karena kebakaran atau rumah anda harus disita bank. Hal tersebut akan berdampak sangat besar bagi hidup kita. Tidak hanya kita akan kehilangan aset, tetapi juga besarnya biaya yang harus kita keluarkan berikutnya setelah kita ditendang keluar dari rumah. Read the rest of this entry »

Sekitar 5 tahun yang lalu, saya pernah dikirim cerita motivasi lewat BBM oleh seorang teman. Menurut saya, ceritanya sangat menarik dan menggambarkan bahwa manusia adalah mahluk yang penuh bias. Sayangnya BBM nya sudah hilang dan saya harus menulis ulang ceritanya. Ceritanya tidak persis seperti yang saya tulis ulang ini. Saya berikan sedikit narasi tambahan supaya lebih dramatis. Eeaa..

panoramic-york-train-station

Ceritanya adalah sebagai berikut:

———————

Bayangkan anda atau rekan anda menghadapi 4 (empat) situasi seperti ini:

Kondisi dari situasi tersebut adalah sebagai berikut: anda baru turun dari stasiun kereta yang ada di dekat tempat tinggal, pada siang hari, dengan kondisi stasiun yang sangat ramai. Di tengah-tengah kondisi tersebut, ternyata dompet anda yang penuh dengan uang kas dan surat-surat penting ternyata terdorong keluar dan akan jatuh dari saku celana.

Pertama, ada orang yang menepuk anda dari belakang dan mengingatkan anda untuk menjaga agar dompetnya tidak jatuh. Anda pun bereaksi dengan segera memasukkan dompet kembali ke dalam celana. Kemudian anda pun hanya tersenyum ke orang yang mengingatkan, mungkin tanpa mengucapkan terima kasih dan terus berjalan.

Kedua, dompet anda terjatuh dan anda tidak menyadarinya. Tiba-tiba ada orang dari jarak sekitar 10 meter memanggil anda, lewat baju dan merek dompet, dan anda pun menoleh melihat ada orang yang memegang dompet yang anda sadari ternyata telah terjatuh. Anda kemudian menghampiri orang tersebut, mengambil dompet anda, menjabat tangan, seraya mengucapkan terima kasih berkali-kali. Bahkan mungkin bercerita kalau anda menghargai upayanya mengingat isi dompet yang sangat berharga. Read the rest of this entry »

Film The Big Short adalah film ber-“genre” finance yang dapat dibilang cukup jarang tampil di jagat perfilman dunia. Beberapa film tentang finance diantaranya adalah: Margin Call, Wolf of The Wall Street, Inside Job, dan Too Big Too Fail. Film ini diadapsi dari buku The Big Short karangan Michael Lewis. Cerita dari buku tersebut utamanya berpusat pada 4 (empat) orang pelaku pasar yang sukses menebak krisis Amerika tahun 2008 dan mengambil keuntungan atas terjadinya krisis dimaksud. Ga tanggung-tanggung, keuntungan yang diperoleh masing-masing orang tersebut pada saat terjadinya krisis mencapai ratusan juta dolar. Oh iya, film ini juga mengikutsertakan beberapa penyanyi, aktris, maupun chef terkenal untuk menggambarkan ilustrasi atas hal-hal yang sulit dipahami oleh orang yang awam di dunia finance.

Meskipun terlambat, saya ingin mengucapkan selamat bagi sebuah film tentang Finance yang diadopsi dari true story: The Big Short. Pada perhelatan oscar yang lalu, film ini memenangkan penghargaan best adapted screenplay. Selain memenangkan best adapted screenplay, film ini juga dinominasikan untuk 4 penghargaan lainnya. Selengkapnya baca di sini.

the big short

Saya akan mencoba menjelaskan film tersebut secara singkat (kayaknya gak singkat deh =P).

Read the rest of this entry »

Kita telah menyelenggarakan helatan besar demokrasi pada tahun 2014 untuk pemilihan Presiden dan pada Desember 2015 untuk memilih Kepala Daerah di sejumlah Kabupaten/Kota. Curious dengan strategi kampanye dalam pemilu baik oleh calon Presiden dan calon Kepala Daerah, jadilah buku ini mampir di meja saya.

Buku How to Win An Election ini sebenarnya adalah terjemahan dari sebuah surat seorang adik, bernama Quintus, kepada kakaknya, bernama Marcus, yang ingin maju menjadi seorang Consul (Pemimpin Tertinggi) di ancient Rome.

image

Surat tersebut ditulis dalam bahasa latin dan kemudian diterjemahkan oleh seorang penulis, Philip Freeman, dalam bahasa inggris. Surat tersebut dibuat pada tahun 64 SM dan secara spesifik ditujukan tepat pada saat kakaknya ingin menyusun strategi kampanye guna memenangkan pemilu yang sudah menggunakan konsep One Man One Vote (OMOV). Sebenarnya surat yang berisi tentang strategi berkampanye ini dibuat sesuai dengan profil sang kakak. Meskipun demikian,  banyak yang setuju bahwa wisdom dalam surat ini juga berlaku bagi semua peserta Pemilu.

Marcus dan Quintus adalah golongan rakyat biasa yang ingin maju memegang tampuk pemerintahan. Sedangkan lawan Marcus, yaitu 2 (dua) orang yang juga ingin maju, adalah golongan bangsawan Roma. Saran dari Quintus yang disampaikan melalui surat kepada kakaknya adalah saran yang sangat-sangat bagus. Timeless dan no-nonsense. Inilah salah satu tulisan klasik mengenai strategi dan filosofi dalam berkampanye guna meraih suara yang masih relevan sampai dengan hari ini. Setelah 20 abad lamanya.

Sejarahnya, Marcus dan Quintus ini punya kesempatan bersekolah di Yunani, pada saat itu. Mungkin disitulah mereka belajar filosofi sehingga bisa belajar dan memahami banyak hal. Kadang-kadang heran juga kenapa kok banyak filsuf itu berasal dari Yunani.

Back to topic. Secara singkat, beberapa saran yang diberikan oleh Quintus kepada kakaknya adalah sebagai berikut:

Make sure you have the backing of your family. Hal pertama yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin naju menjadi pemimpin adalah support dari keluarga. Entah itu dari sisi biaya, waktu, dan lainnya. Selain itu, semua rumor atau isu yang muncul pada saat kampanye, umumnya berasal terkait dengan permasalahan orang yang paling dekat dengan kita. Read the rest of this entry »