Beberapa minggu yang lalu, saya hadir untuk mengikuti Stanford Business School Information Session di Jakarta. Why? karena saya tertarik untuk kuliah di luar negeri. Di Stanford kah? Jawabannya nanti ada di akhir cerita ini =)

Mari kita mulai ceritanya.

Stanford Business School Information Session adalah salah satu hal yang dilakukan Stanford untuk menjaring minat pendaftar di Seluruh Dunia. Information Session tersebut dilakukan secara berkeliling di negara-negara terpilih di beberapa benua. Kebetulan Indonesia adalah salah satu negara yang terplilih untuk dikunjungi oleh Stanford dengan lokasi penyelenggaraan adalah di Jakarta. Tepatnya di Universitas Bakrie. Why? Karena salah satu pemilik Universitas Bakrie yakni Anindya Bakrie adalah Alumni Stanford Business School class of 97.

Acara Stanford Business School tersebut dilakukan pada sekitar pukul 16.00 di awal bulan Agustus 2014.

Waktu itu, saya datang paling awal dibandingkan dengan yang lainnya. Pada saat saya datang, hanya ada 3 orang di dalam ruangan yakni Pasangan suami istri dan admission staff (perempuan) dari Stanford Business School. Pasangan suami istri tersebut berasal dari Malaysia, dengan usia sekitar 35 tahun. Suaminya bertubuh besar dan saat ini bekerja di Petronas.

Saya pun berbincang dengan mereka. Saat itu pulalah saya merasa banyak hal yang perlu saya perbaiki dari kemampuan Bahasa Inggris saya. It felt rusty. Kenapa? saya mengamatinya dari raut muka mereka ber tiga yang aneh ketika saya berbahasa Inggris. Haha =|

Selanjutnya, tidak sampai 30 menit saya menunggu, peserta berdatangan hingga memenuhi ruangan. Acara pun dimulai. Acara dimulai dari pemberian informasi dari Admission Staff selama 15 menit dan dilanjutkan dengan 3 pembicara tamu yakni alumni Stanford dari Indonesia.

Presentasi dari Admission Staff-nya sangat menggugah hati untuk melanjutkan kuliah, apapun majornya. Note dan outline dari presentasinya antara lain adalah sebagai berikut:

Stanford expect MBA student to have:
1. A career with an impact and A life with meaning
2. Achieve insane levels of greatness. Never settle for less!
3. Personal transformation, not just an MBA factory.

Selain itu, admission staff juga menjelaskan proses penerimaan Stanford, fokus area dan beberapa hal lainnya. Salah satu hal yang menarik adalah adanya “touchy-feely” class yang nama sebenarnya adalah Interpersonal Dynamics class. Disini anda diminta untuk berinteraksi satu dengan yang lain, memberikan feedback baik positif maupun negatif (kritik membangun) bagi masing-masing anggota kelas/team. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di quora (alumni yang menjawab): What Are The Key Lesson of Touchy Feely Class at Stanford GSB?

Satu yang saya sukai dari Stanford adalah selain dari kita belajar tentang Business di MBA, Stanford memiliki budaya positif untuk memberikan feedback. You’ll get continous feedback every day, every week, every month for 2 years. With those amount of feedbacks, Kalau setelah keluar dari sana anda tidak menjadi orang yang lebih baik, berarti itu adalah salah anda =)

Selanjutnya, acara diisi oleh 3 (tiga) orang Alumni dari GSB yang berasal dari Indonesia yakni: Rahmat Kaimuddin – usia 36an tahun (Ketua Ikatan SMA Taruna Nusantara saat ini, Komisaris Independen PT. Bank Bukopin) – gila kan, usia belum 40 udah jadi komisaris di Bank yang cukup besar –, Ray Pulungan, dan 1 lagi saya lupa namanya (hehe..).

Oh iya, saking susahnya masuk ke sana, selama 10 tahun terakhir hanya ada 5 (lima) alumni GSB yang berasal dari Indonesia..

Masing-masing pembicara menyampaikan pengalamannya kuliah di Stanford. Kalau dari sisi lingkungan, Pak Rahmat menyampaikan bahwa Stanford, California adalah salah satu heaven on earth. Udaranya segar dan pemandangannya indah. Bahwa dia menyampaikan dia sempat sakit kepala sepulang dari Stanford dan sampai di Jakarta yang macet dan banyak polusi.

Dia juga menyampaikan bahwa tidak perlu takut untuk mencoba mendaftar kuliah di Stanford. Pak Rahmat menyampaikan bahwa, dia dulu kuliah di MIT pada saat S1. Dan beberapa tahun kemudian mendaftar di Stanford. Pada saat itu, ada 2 orang teman dekatnya yang juga lulusan MIT bertemu dengannya. Temannya tersebut adalah Peneliti di Harvard dan Engineer di NASA. Teman-temannya mengolok dia dengan kata-kata “Poor You!” setelah tahu Pak Rahmat ada di Stanford MBA.

Pak Rahmat menyampaikan anekdot tersebut agar kita percaya dengan kemampuan kita, orang-orang yang genius sekali kemungkinan besar tidak akan mendaftar di MBA, mereka pasti mendaftar di sebagai Engineer, Peneliti dan lainnya. Yah, seenggak-enggaknya ga perlu Genius-Genius banget lah untuk masuk MBA. Cukup di atas rata-rata (Er…….).

Selain itu, ketiga alumni tersebut sepakat bahwa Stanford mengajarkan hal yang berbeda dibandingkan Harvard. Harvard fokus di leadership, sedangkan Stanford fokus di Pengembangan diri dan kolaborasi.

Hal menarik lainnya yang disampaikan adalah adanya policy di Stanford terkait dengan nilai mahasiswanya: Grade Non-Disclosure. Maksudnya adalah Stanford melarang staf kampus dan mahasiswa-nya untuk memberikan informasi nilai-nya kepada pemberi kerja dan atau mahasiswa lainnya. Pada intinya, Stanford hanya memberikan informasi Success or Fail pada setiap mata kuliah.

Stanford percaya bahwa mahasiswa yang lulus pada setiap mata kuliah adalah mahasiswa yang telah memiliki delta atau nilai tambah dibandingkan dengan sebelum mereka mengikuti kuliah tersebut. Sangat percaya diri ya Stanford ini. But, that’s good anyway. =)

Dengan meniadakan persaingan antar mahasiswa terkait dengan Grade Non-Disclosure tersebut, Stanford mendorong agar mahasiswanya dapat take academic-risk dengan melakukan berbagai hal yang dapat mendukung pencapaian mereka sebagai mahasiswa MBA yang tidak hanya mengerti bisnis as is tapi juga dapat memiliki talenta lain ataupun juga memulai bisnisnya sendiri tanpa khawatir dengan nilai akademisnya..

Setelahnya, dilakukan tanya jawab antara peserta dan alumni. Saya pun merasa semakin menciut karena profil peserta dan kemampuan mereka berbahasa inggris yang cas cis cus.

Cerita pun berlanjut panjang lebar. Salah satunya adalah motivational letter. Salah satu peserta mencoba bertanya kepada alumni tersebut terkait dengan motivational letter. Alumni pun menjawab bahwa banyak yang melakukan hal yang sama, yakni mencontek motivational letter dari alumni yang lain, namun demikian, hal tersebut tidak akan menunjukkan orisinalitas dari pendaftar dan juga dapat menyebabkan motivational letter tersebut tidak unik sehingga ditolak oleh Stanford.

Pada intinya, saya sangat senang mengikuti acara tersebut yang akhirnya juga membuka mata saya atas kelemahan saya kalau saya ingin mencoba mendaftar MBA di Stanford ataupun di lainnya.

Oh iya, saya pernah dengar bahwa kalau anda ingin mencoba mendaftar kuliah MBA, anda harus pernah ke luar negeri meskipun hanya jalan jalan (untuk membuktikan anda berwawasan global) dan juga harus dapat menunjukkan ketertarikan yang tinggi untuk kampus tersebut.

Last but not least, apakah saya akan diterima di Stanford? Maybe not. Saya tidak sepintar itu. Tapi insyaAllah saya akan mencoba mendaftar, iseng-iseng berhadiah. Kalaupun ditolak, saya akan mencoba tempat lainnya yang sudah saya perkirakan.

Semoga bisa dapat tempat kuliah yang terbaik sesuai kehendakNya. Manusia memilih, Allah yang menentukan.

That’s it. Thanks for reading.

Selamat melanjutkan pendidikan anda =)

Advertisements