Archives for posts with tag: kehidupan

“Apa-apaan ini! Masak jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pemilu 2019 meninggal hingga sebanyak 559 orang??! Ada beberapa yang meninggal itu karena diracun! Dokter lho ini yang ngomong.” Data jumlah KPPS meninggal disajikan per 20 Mei 2019, bisa dibaca di sini.

Okay. Selama tiga minggu terakhir, saya bersyukur bisa menjauhkan diri dari hiruk pikuk berita pemilu. Bisa jadi karena tutup mata dan telinga, atau karena load kerjaan yang lagi tinggi-tingginya. Eh, lha kok harus terpaksa mendengar kembali obrolan tentang pemilu pada saat mudik di sebuah kabupaten kecil di Jawa Timur.

Untuk dapat berdiskusi tentang klaim sepihak atas penyebab meninggalnya KPPS, mari kita gunakan pendekatan ilmu peluang dan tabel kematian (mortality statistics) yang biasa digunakan oleh aktuaris dalam perhitungan jumlah klaim yang akan terjadi di sebuah perusahaan asuransi jiwa (ekspektasi klaim = ekspektasi jumlah orang meninggal x rata-rata pertanggungan asuransi). Kita akan gunakan pendekatan simpel untuk memperoleh angka ekspektasi jumlah orang meninggal.

Bisakah pendekatan tersebut digunakan untuk menghitung ekspektasi jumlah orang meninggal? Tentunya bisa, dengan pendekatan law of large number.  Mari kita telaah dulu berita dan informasi mengenai kejadian meninggalnya anggota KPPS.

Read the rest of this entry »
Advertisements

Semua yang ada pada hidup kita itu punya trade off. Pasti. Tidak ada hal yang didunia ini bisa kita capai tanpa pengorbanan pada suatu sisi.

Pada ilmu ekonomi, yang saya pelajari dulunya pada saat in class training – secara kan saya seorang Engineer yang pastinya tidak pernah belajar ekonomi di ruang kuliah – ada salah satu topik pembahasan yang disebut dengan impossible trinity atau trilemma bagi sebuah bank sentral. Kalau dilemma itu diartikan sebagai diantara dua pilihan, trilemma ini secara gampangnya dapat diartikan sebagai diantara tiga pilihan.

Diantara tiga pilihan bagi bank sentral tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kebijakan nilai tukar yang ditetapkan pada nilai tertentu
  2. Arus modal bebas keluar masuk
  3. Kebijakan moneter independen – yang sesuai dengan kondisi dalam negeri

Dari tiga pilihan tersebut, kita hanya bisa memilih 2 pilihan. 3 hal tersebut seluruhnya tidak dapat dicapai secara bersamaan. Anda harus mengorbankan hal ke-3 dalam usaha untuk pencapaian 2 hal lain yang Anda kejar. Ilustrasi trilemma tersebut sebagaimana gambar dibawah:

trilemma kebijakan

Pada saat ini, Kebijakan moneter Bank Indonesia sebagai bank sentral indonesia adalah Kebijakan Moneter yang Independen dan Arus modal bebas. Dampak dari kebijakan tersebut adalah berfluktuasinya nilai tukar Rupiah.

Menurut saya pribadi, kebijakan tersebut adalah kebijakan yang terbaik untuk kondisi saat ini mengingat apabila kebijakan yang diambil adalah kebijakan untuk melakukan capital control, maka dampaknya adalah semakin menurunnya jumlah investasi asing ke dalam negeri yang saat ini sangat amat dibutuhkan oleh Indonesia.

Nah, dari situ saya juga belajar bahwa ternyata banyak juga trilemma lainnya yang kita hadapi di kehidupan sehari-hari. Setidaknya, dalam kehidupan saya terdapat 5 (lima) trilemma lainnya yang pernah saya alami sendiri. Read the rest of this entry »