I have officially been a scholarship hunter since May 2016. I took an english test (IELTS) in May 2016 and since then declared myself as a scholarship hunter. Beberapa teman telah berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dari pemberi beasiswa terkenal di indonesia dan dunia antara lain Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Chevening, dan Fulbright. Ekspektasi awal dalam mencari beasiswa adalah “tidak terlalu sulit”. Kalau teman-teman saya bisa, kenapa saya enggak?

scholarship

Keinginan untuk berangkat kuliah dan meniti ilmu adalah karena adanya kebutuhan pendidikan formal di bidang keuangan untuk meningkatkan kompetensi sehingga bisa berkontribusi lebih baik terhadap sektor di mana saya bekerja. Background keilmuan teknik yang dimiliki menyebabkan adanya gap pengetahuan untuk dapat memahami hal yang lebih advanced di bidang keuangan. Ada terselip sedikit niat-niat lain disamping niat utama tersebut. Tapi niat-nya adalah baik. Dan tidak, kuliah ke luar negeri bukanlah untuk jalan-jalan.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Seringkali kita melihat dan mendengar adanya perdebatan mengenai klaim hasil keberhasilan pembangunan secara fisik oleh masing-masing era pemerintah. Saling klaim ini terjadi tidak hanya di pemerintahan pusat, namun juga di pemerintah daerah. Saling klaim tersebut misalnya: Jokowi hanya gunting pita, SBY yang membangun atau Daftar warisan Ahok yang diresmikan Anies – Sandi. Jadi, benarkah argumen atas berita tersebut? Mari kita coba bahas secara ilmiah.

Pembangunan fisik oleh pemerintah umumnya diukur dari keberhasilan pembangunan sarana prasarana dan infrastruktur. Hal ini jauh lebih mudah diukur dibandingkan dengan pembangunan non-fisik, misalnya pendidikan mental, peningkatan skill dan keterampilan sumber daya manusia, penurunan pengangguran, dan lainnya. Sarana prasarana dan infrastruktur dapat dihitung baik secara jumlah maupun secara anggaran. Dari sisi jumlah misalnya pembangunan 100 km jalan tol atau peningkatan anggaran infrastruktur sebesar Rp300 Triliun. Nah, kembali ke topik kita. Gimana sih cara untuk menilai era atau pemerintahan jaman siapa yang berhasil mendorong pembangunan infrastruktur di Indonesia?

Untuk dapat menilai hal tersebut, kita perlu ketahui nature bisnis proyek pemerintah. Proyek pemerintah, khususnya infrastruktur skala besar umumnya adalah proyek yang multi – years (lebih dari satu tahun). Kalau proyek kecil yang sifatnya harus selesai di tahun berjalan, sudah jelas lah ya siapa yang membangun dan berhak mengklaim keberhasilannya. Proyek dengan jangka waktu lebih dari satu tahun, misal 5 tahun, yang umumnya menjadi perdebatan terkait dengan saling klaim antar pendukung partai politik, pendukung Gubernur, atau pendukung Presiden. Hal ini terjadi karena proyek tersebut dikerjakan oleh era kepemimpinan yang berbeda.

Argumen yang dapat digunakan untuk mengklaim keberhasilan tersebut antara lain adalah progres pengerjaan proyek atau realisasi anggaran. Kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah dibayar sesuai dengan jangka waktu dan realisasi proyek yang berhasil dikerjakan. Dalam hal ini, kontraktor akan dibayar sekian rupiah apabila mereka berhasil mengerjakan proyek sampai tahap tertentu. Yang membayar? ya pemerintah sebagai pemilik proyek. Uangnya dari mana? ya dari penerimaan negara (pajak maupun non-pajak) ditambah dengan hutang sebagaimana tercantum di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Read the rest of this entry »

Hai, long time no write. Saya melanggar janji untuk update minimal 1 tulisan setiap bulannya. Semoga bisa rutin lagi ke depannya.

Aniwei, beberapa minggu yang lalu, saya mengikuti kegiatan pelatihan kepemimpinan berjenjang tingkat paling dasar dari institusi saya. Pelatihan ini diberikan bagi manajer baru untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan mereka. Undangan untuk mengikuti pelatihan ini sebenarnya sudah datang kurang lebih 2 (dua) kali sejak tahun 2016. Sayangnya, waktu itu banyak kegiatan kantor dan (mungkin) rendahnya kesadaran atas manfaat kegiatan pelatihan tersebut.

Tak ada kata terlambat. Ternyata mengikuti kegiatan pelatihan tersebut luar biasa manfaatnya. Rasanya sangat bahagia bisa mengikuti kegiatan pelatihan tersebut. Lebih-lebih pelatihan ini menyadarkan diri sendiri yang ternyata masih jauh dari kata efektif 🙂

I felt sad for what I achieved at work last year. For me, personally, 2017 is a year to forget. Yang pasti, Pengalaman dan pelatihan leadership menjadi momen refleksi atas segala hal yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, pengalaman tersebut dan rencana kegiatan yang akan dilakukan ke depan akan diunggah dalam beberapa seri tulisan tentang leadership. Mungkin ini akan menjadi tulisan yang dibagi menjadi 5 atau 7 seri.

I quoted Ray Dalio’s word from his Principles book.

In good times, you complacent. Only in bad and great times, you learn.

I have my bad times last years. Itulah kenapa saya merasa banyak pembelajaran yang saya alami saat ini.

Singkatnya, di tahun lalu I failed in several aspects at work, one of them is people development, and I failed to be myself. Saya gagal dalam bekerja dengan baik sesuai dengan standar dan prinsip yang saya anut. Mungkin kalau saya menilai diri saya di posisi sebelumnya, saya bisa menerima hasil pekerjaan saya. Tapi apabila saya menilai hasil kerja saya di posisi saat ini, disitu saya merasa sedih. Tanpa terlalu merasa rendah diri, sedikit banyak, saya merasa cukup sukses dalam mengembangkan diri sendiri. Tapi dalam mengembangkan orang lain, nilai saya Nol Besar.

Tahun lalu, saya berhasil untuk mengembangkan diri saya di berbagai hal. Saya ikut les bahasa inggris dan berhasil meningkatkan nilai sebesar 0.5 band di IELTS pada Februari 2018 yang lalu, mampu memperbaiki catatan waktu lari untuk 5k dari 30 menit menjadi 25 menit, gowes sejauh 156 km melintasi suramadu, ikut student concert di tempat les piano, dan banyak hal lainnya. I have invested too much time on improving my self. Tidak sadar bahwa tugas ataupun bekerja menjadi seorang pemimpin jauh lebih besar daripada hanya self development. Apa sih sumber permasalahannya? terlalu percaya diri, terlalu naif, terlalu loose, kurang beribadah? atau mungkin… Saya gagal menjadi diri saya sendiri?

Read the rest of this entry »

Pernah dengar biro tur umroh “First Travel”? Kalau anda atau rekan anda ada yang ingin atau telah berangkat umroh, kemungkinan besar anda akan pernah mendengar nama biro tur tersebut. First Travel menjadi terkenal karena mereka menawarkan paket umroh yang sangat murah yaitu hanya sebesar Rp14-15 juta per orang. Sayangnya, nama besar “First Travel” mengalami guncangan beberapa saat yang lalu. Tidak lain dan tidak bukan karena mereka ingkar janji memberangkatkan jemaah yang telah mendaftar dan membayar untuk umroh.

Haaa? Kok bisa? Pada intinya mereka ingkar janji untuk memberangkatkan jemaah yang telah membayar meskipun jemaah tersebut telah menunggu setahun lamanya. Selengkapnya baca saja di sini: polemik keberangkatan umroh di First Travel. Perlu kita ketahui bahwa model bisnis First Travel: adalah anda bayar murah sekarang, untuk berangkat umrah 12 – 20 bulan yang akan datang.

Apa yang salah dengan model bisnis First Travel? kita perlu mengkritisi 2 bagian dari model bisnis dimaksud. Pertama, bagaimana dia bisa menetapkan harga yang sangat murah, hanya Rp15 juta, sedangkan pesaingnya mengenakan harga sampai dengan Rp19 juta untuk layanan yang sama. Kedua, kenapa kita harus menunggu berangkat umroh selama 12-20 bulan setelah membayar lunas?

Read the rest of this entry »

Sebelum memulai penjelasan dari sudut pandang saya terkait dengan Down Payment (DP) 0% yang sekarang sedang menjadi perhatian publik, saya ingin rekan menjawab pertanyaan ini: apa aset riil/fisik terbesar yang anda miliki? (selain tabungan dan deposito di bank). Mayoritas pembaca akan menjawab: Rumah atau Kendaraan Bermotor. Bagi yang masih belum punya rumah biasanya akan menjawab kendaraan bermotor. Kalau misalnya aset terbesar anda adalah tas Hermes, cincin berlian, kapal pesiar, atau helikopter maka anda bisa stop membaca sampai disini.

rumah

Kalau aset terbesar anda adalah rumah atau kendaraan bermotor, yuk mari kita lanjutkan pembahasan terkait dengan Rumah dan DP 0%.

Rumah sebagai aset terbesar

Bagi mayoritas masyarakat di Indonesia (bahkan di Dunia), 2 (dua) hal yang saya sebutkan di atas mendominasi aset atau harta kekayaan mereka. Rumah dan mobil yang dimiliki oleh masyarakat pada umumnya juga diperoleh melalui kredit dari Bank. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Yang salah adalah kalau dikemudian hari terjadi gagal bayar atas kredit tersebut.

Tahukah anda mengapa krisis di Amerika Serikat berdampak sangat dalam bagi masyarakat di sana? Tidak lain dan tidak bukan karena rumah adalah aset terbesar yang kita miliki. Selengkapnya anda bisa baca di sini. Bayangkan kalau misalnya anda kehilangan rumah karena kebakaran atau rumah anda harus disita bank. Hal tersebut akan berdampak sangat besar bagi hidup kita. Tidak hanya kita akan kehilangan aset, tetapi juga besarnya biaya yang harus kita keluarkan berikutnya setelah kita ditendang keluar dari rumah. Read the rest of this entry »

Pernah menggunakan Uber? Hari geneee, siapa sih yang belum pernah menggunakan Uber. Kalau pernah menggunakan Uber, pasti juga pernah kena surge price alias petir (salah satu teman saya bilang).

Pada bulan Desember yang lalu saya pernah membahas tentang Big Data and Financial Behaviour Analysis di sebuah Forum. Nanti deh saya tulis lagi tentang kegiatan yang dilakukan pada acara tersebut. Salah satu bahasannya adalah tentang Uber surge price.

uber surge price

The math behind Surge Price is beautiful. It is the dream of many economist. Alasan adanya surge price adalah rasionalisasi antara supply dan demand dari pengguna dan pengendara Uber.

Apabila terjadi kondisi dimana permintaan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ketersediaan mobil Uber, maka terjadilah surge price tersebut. Uber akan menginformasikan surge price tersebut kepada pengendara dengan harapan bahwa insentif atas surge price tersebut akan mendorong pengendara lain yang sedang idle untuk turun ke jalan dan mengangkut penumpang. Apabila permintaan kemudian dapat terpenuhi seiring dengan banyaknya ketersediaan Uber di suatu lokasi, maka surge price akan berangsur-angsur menurun dan kembali ke titik normal.

image

sumber: instagram.com/ubersja

Read the rest of this entry »

Baru –baru ini, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) telah melakukan uji coba terhadap motor listrik yang dikembangkannya bersama dengan Garansindo. Motor yang dikembangkan tersebut diberi nama GESITS (Garansindo Electric Scooter ITS). Uji coba motor listrik ini dilakukan selama 5 (lima) hari, menempuh perjalanan darat dari Jakarta – Daerah Khusus Ibukota Jakarta menuju Denpasar – Bali, dengan total jarak tempuh mencapai +1.500 kilometer (km). Uji coba tersebut berlangsung relatif tanpa kendala.

gesits its uji tes

Meskipun demikian, harus kita akui bersama bahwa, uji coba tersebut masih belum memuaskan. Berdasarkan berita dan pengakuan dari tim uji coba, kecepatan berkendara motor tersebut masih dibatasi hanya sekitar 60 km/jam dari kecepatan maksimalnya yang “hanya” 100 km/jam. Dengan kecepatan yang terhitung “cukup lambat” tersebut, motor GESIT masih mengalami kendala berupa overheating yang menyebabkan mesin mati secara mendadak.

Jadi, anggap  saja bahwa uji coba kemarin itu adalah sebuah show of force bahwa ITS dan Garansindo saat ini mempunyai sebuah motor listrik yang laik jalan. Ya, motor tersebut terbukti bisa dikendarai dari Jakarta ke Denpasar. Namun, tes yang dilakukan GESITS belum bisa menggambarkan skenario everyday use, utamanya karena batasan kecepatan tersebut.

Tidak, tidak, saya tidak sedang skeptis terhadap motor listrik tersebut. Justru, saya sangat berharap agar motori listrik ini bisa sukses dan laku di pasaran, karena saat ini banyak yang ragu dan sangat mungkin tidak ingin agar motor listrik ini tidak berkembang di Indonesia. Keraguan itu muncul, utamanya berasal dari produsen motor dan asosiasinya. Berdasarkan artikel yang saya baca, setidaknya Yamaha (link) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia/AISI (link).

Read the rest of this entry »