Archives for category: Opinion

Bayangkan anda sebagai seorang praktisi risk management yang kemudian menghadapi kasus sebagai berikut:

“Alkisah, ada seorang CEO baru di perusahaan manajemen aset yang berlokasi di Indonesia. CEO tersebut adalah seorang laki-laki berkebangsaan Amerika. Pada minggu pertama, dia melakukan transaksi dengan nominal yang sangat besar, lebih dari 10 miliar dolar. CEO tersebut melakukan transaksi secara mandiri tanpa melalui proses manajemen risiko pada umumnya di sebuah perusahaan antara lain melalui komite, manajemen risiko, pemisahan tugas, dan lainnya. CEO tersebut juga tidak menyusun standar operasi secara tertulis yang komprehensif terkait dengan kegiatan tersebut. Dia hanya menuliskan alasan dan pertimbangan atas transaksi tersebut pada selembar kertas A4.”

Secara text-book dan pengalaman anda sebagai seorang praktisi yang telah malang melintang di dunia keuangan dan manajemen risiko, pasti anda akan menganggap apa yang dilakukan oleh CEO tersebut adalah rogue trading, melanggar prinsip manajemen risiko, dan lainnya.

Kalau misalnya saya tambahkan informasi bahwa nama CEO baru tersebut adalah Warren Buffet, salah satu tersukses di dunia selama 1 abad terakhir, apakah pendapat anda akan tetap sama seperti sebelumnya? Haha!

Read the rest of this entry »

Minggu lalu, saya mengikuti kelas Purpose of Finance. Kelas yang menarik. Dosennya bercerita tentang tujuan dan inovasi yang telah dilakukan oleh dunia keuangan dan manfaatnya terhadap umat manusia.

Bank, asuransi, dan mesin Automated Teller Machine (ATM) adalah beberapa contoh hasil inovasi di dunia keuangan. Bayangkan betapa mahalnya biaya pengobatan kalau tidak ada asuransi kesehatan. Bayangkan juga biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia untuk pengobatan kanker kalau tidak ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Pada dasarnya, finance adalah adanya kontrak keuangan antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Sebagai contoh, masyarakat menyimpan dana di bank karena adanya kontrak antara bank dengan masyarakat bahwa bank menjamin dana masyarakat secara aman dan dapat diambil sewaktu-waktu. Selain itu, bank juga berhak mengelola dana tersebut untuk disalurkan kepada pihak lainnya. Demikian dengan semua produk keuangan yang sophisticated. It is all about the “contract”.

Sembari menyimak penjelasan dari dosen di kelas, hati dan pikiran saya terketuk untuk bisa membuat sebuah inovasi keuangan dengan purpose untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh lingkungan sekitar. Kemudian saya sadar bahwa saya dan teman-teman sekitar yang saat ini sedang kuliah di UK dihadapkan dengan masalah bahwa kami harus membayar sewa properti dibayar dimuka untuk 6-bulan, dari yang umumnya dibayar secara bulanan.

Kok bisa? Ya, karena mahasiswa Indonesia di UK tidak memiliki UK based guarantor dan juga diragukannya kemampuan finansial seseorang dengan status pelajar. Secara garis besar, agen properti di UK mempersyaratkan penghasilan tahunan = 2,5 x biaya sewa per tahun. 

Perlu diketahui bahwa biaya sewa properti di UK, khususnya di London adalah MAHAL! Untuk sewa tempat tinggal dengan ukuran (small flat) di sekitar zona 2-3, kita harus membayar sedikitnya GBP1.000 (~Rp17.500.000 per bulan, kurs September 2019). By the way, dengan angka ini, maka perlu penghasilan tahunan minimal 2,5 x 1000 x 12 atau sekitar GBP30.000 atau sekitar IDR525.000.000. Beberapa teman saya yang membawa keluarga bahkan ada yang tinggal di flat dengan harga GBP2.000 per bulan. Read the rest of this entry »

“Apa-apaan ini! Masak jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pemilu 2019 meninggal hingga sebanyak 559 orang??! Ada beberapa yang meninggal itu karena diracun! Dokter lho ini yang ngomong.” Data jumlah KPPS meninggal disajikan per 20 Mei 2019, bisa dibaca di sini.

Okay. Selama tiga minggu terakhir, saya bersyukur bisa menjauhkan diri dari hiruk pikuk berita pemilu. Bisa jadi karena tutup mata dan telinga, atau karena load kerjaan yang lagi tinggi-tingginya. Eh, lha kok harus terpaksa mendengar kembali obrolan tentang pemilu pada saat mudik di sebuah kabupaten kecil di Jawa Timur.

Untuk dapat berdiskusi tentang klaim sepihak atas penyebab meninggalnya KPPS, mari kita gunakan pendekatan ilmu peluang dan tabel kematian (mortality statistics) yang biasa digunakan oleh aktuaris dalam perhitungan jumlah klaim yang akan terjadi di sebuah perusahaan asuransi jiwa (ekspektasi klaim = ekspektasi jumlah orang meninggal x rata-rata pertanggungan asuransi). Kita akan gunakan pendekatan simpel untuk memperoleh angka ekspektasi jumlah orang meninggal.

Bisakah pendekatan tersebut digunakan untuk menghitung ekspektasi jumlah orang meninggal? Tentunya bisa, dengan pendekatan law of large number.  Mari kita telaah dulu berita dan informasi mengenai kejadian meninggalnya anggota KPPS.

Read the rest of this entry »

Kita sering mendengar berita bahwa banyak milenial tidak mampu untuk membeli rumah karena harganya yang sudah tidak lagi dapat terjangkau dibandingkan dengan gaji yang diterima. Beritanya dapat dibaca di: mimpi milenial untuk membeli rumah idaman.

Menurut pandangan saya, rumah memang penting. Banyak yang bilang bahwa kebutuhan manusia yang utama adalah sandang, pangan, dan papan. Perlu rencana keuangan yang matang bagi milenial untuk membeli rumah. Namun demikian,ada hal lain yang wajib dimiliki dan direncanakan dengan baik dari sisi keuangan oleh milenial yang sudah bekerja dibandingkan dengan keinginan memenuhi “papan” atau rumah.

holding hands

Hal itu adalah: perencanaan pensiun dan perencanaan pendidikan anak. Kedua hal ini lebih penting dibandingkan dengan membeli rumah. Gak punya rumah? sewa atau kontrak saja cukup. Punya uang yang tidak terlalu banyak? ga harus beli rumah idaman, beli saja apartemen yang terjangkau.

Banyak alternatif yang dapat dicari jika memang kebutuhannya adalah tempat tinggal. Tidak harus rumah tapak yang ukurannya luas atau dekat dari tempat usaha.

Tapi sayangnya, alternatif untuk pendidikan dan pensiun relatif terbatas. Di sini saya asumsikan bahwa rencana pendidikan adalah menyediakan dana yang cukup bagi anak sampai dengan kuliah dan pensiun dengan sukses.

Semakin banyak anak, maka semakin rumit pula rencana keuangan yang harus disusun. Lebih-lebih kalau anda ingin menguliahkan anak di luar negeri.

Rencana keuangan untuk pensiun pun tidak kalah rumitnya. Menurut standar perencanaan keuangan, standar pensiun yang sukses adalah memiliki standar gaya hidup yang sama seperti pada saat sebelum pensiun. Pada saat pensiun, kita akan dihadapkan dengan kondisi dimana kita tidak lagi memperoleh pemasukan yang sama seperti saat kita masih aktif bekerja dan kesehatan yang tidak lagi prima.

Persiapan pensiun dimulai pada hari anda pertama bekerja.

Rumit amat mas?

Read the rest of this entry »

I have officially been a scholarship hunter since May 2016. I took an english test (IELTS) in May 2016 and since then declared myself as a scholarship hunter. Beberapa teman telah berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dari pemberi beasiswa terkenal di indonesia dan dunia antara lain Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Chevening, dan Fulbright. Ekspektasi awal dalam mencari beasiswa adalah “tidak terlalu sulit”. Kalau teman-teman saya bisa, kenapa saya enggak?

scholarship

Keinginan untuk berangkat kuliah dan meniti ilmu adalah karena adanya kebutuhan pendidikan formal di bidang keuangan untuk meningkatkan kompetensi sehingga bisa berkontribusi lebih baik terhadap sektor di mana saya bekerja. Background keilmuan teknik yang dimiliki menyebabkan adanya gap pengetahuan untuk dapat memahami hal yang lebih advanced di bidang keuangan. Ada terselip sedikit niat-niat lain disamping niat utama tersebut. Tapi niat-nya adalah baik. Dan tidak, kuliah ke luar negeri bukanlah untuk jalan-jalan.

Read the rest of this entry »

Seringkali kita melihat dan mendengar adanya perdebatan mengenai klaim hasil keberhasilan pembangunan secara fisik oleh masing-masing era pemerintah. Saling klaim ini terjadi tidak hanya di pemerintahan pusat, namun juga di pemerintah daerah. Saling klaim tersebut misalnya: Jokowi hanya gunting pita, SBY yang membangun atau Daftar warisan Ahok yang diresmikan Anies – Sandi. Jadi, benarkah argumen atas berita tersebut? Mari kita coba bahas secara ilmiah.

Pembangunan fisik oleh pemerintah umumnya diukur dari keberhasilan pembangunan sarana prasarana dan infrastruktur. Hal ini jauh lebih mudah diukur dibandingkan dengan pembangunan non-fisik, misalnya pendidikan mental, peningkatan skill dan keterampilan sumber daya manusia, penurunan pengangguran, dan lainnya. Sarana prasarana dan infrastruktur dapat dihitung baik secara jumlah maupun secara anggaran. Dari sisi jumlah misalnya pembangunan 100 km jalan tol atau peningkatan anggaran infrastruktur sebesar Rp300 Triliun. Nah, kembali ke topik kita. Gimana sih cara untuk menilai era atau pemerintahan jaman siapa yang berhasil mendorong pembangunan infrastruktur di Indonesia?

Untuk dapat menilai hal tersebut, kita perlu ketahui nature bisnis proyek pemerintah. Proyek pemerintah, khususnya infrastruktur skala besar umumnya adalah proyek yang multi – years (lebih dari satu tahun). Kalau proyek kecil yang sifatnya harus selesai di tahun berjalan, sudah jelas lah ya siapa yang membangun dan berhak mengklaim keberhasilannya. Proyek dengan jangka waktu lebih dari satu tahun, misal 5 tahun, yang umumnya menjadi perdebatan terkait dengan saling klaim antar pendukung partai politik, pendukung Gubernur, atau pendukung Presiden. Hal ini terjadi karena proyek tersebut dikerjakan oleh era kepemimpinan yang berbeda.

Argumen yang dapat digunakan untuk mengklaim keberhasilan tersebut antara lain adalah progres pengerjaan proyek atau realisasi anggaran. Kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah dibayar sesuai dengan jangka waktu dan realisasi proyek yang berhasil dikerjakan. Dalam hal ini, kontraktor akan dibayar sekian rupiah apabila mereka berhasil mengerjakan proyek sampai tahap tertentu. Yang membayar? ya pemerintah sebagai pemilik proyek. Uangnya dari mana? ya dari penerimaan negara (pajak maupun non-pajak) ditambah dengan hutang sebagaimana tercantum di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Read the rest of this entry »

Hai, long time no write. Saya melanggar janji untuk update minimal 1 tulisan setiap bulannya. Semoga bisa rutin lagi ke depannya.

Aniwei, beberapa minggu yang lalu, saya mengikuti kegiatan pelatihan kepemimpinan berjenjang tingkat paling dasar dari institusi saya. Pelatihan ini diberikan bagi manajer baru untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan mereka. Undangan untuk mengikuti pelatihan ini sebenarnya sudah datang kurang lebih 2 (dua) kali sejak tahun 2016. Sayangnya, waktu itu banyak kegiatan kantor dan (mungkin) rendahnya kesadaran atas manfaat kegiatan pelatihan tersebut.

Tak ada kata terlambat. Ternyata mengikuti kegiatan pelatihan tersebut luar biasa manfaatnya. Rasanya sangat bahagia bisa mengikuti kegiatan pelatihan tersebut. Lebih-lebih pelatihan ini menyadarkan diri sendiri yang ternyata masih jauh dari kata efektif 🙂

I felt sad for what I achieved at work last year. For me, personally, 2017 is a year to forget. Yang pasti, Pengalaman dan pelatihan leadership menjadi momen refleksi atas segala hal yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, pengalaman tersebut dan rencana kegiatan yang akan dilakukan ke depan akan diunggah dalam beberapa seri tulisan tentang leadership. Mungkin ini akan menjadi tulisan yang dibagi menjadi 5 atau 7 seri.

I quoted Ray Dalio’s word from his Principles book.

In good times, you complacent. Only in bad and great times, you learn.

I have my bad times last years. Itulah kenapa saya merasa banyak pembelajaran yang saya alami saat ini.

Singkatnya, di tahun lalu I failed in several aspects at work, one of them is people development, and I failed to be myself. Saya gagal dalam bekerja dengan baik sesuai dengan standar dan prinsip yang saya anut. Mungkin kalau saya menilai diri saya di posisi sebelumnya, saya bisa menerima hasil pekerjaan saya. Tapi apabila saya menilai hasil kerja saya di posisi saat ini, disitu saya merasa sedih. Tanpa terlalu merasa rendah diri, sedikit banyak, saya merasa cukup sukses dalam mengembangkan diri sendiri. Tapi dalam mengembangkan orang lain, nilai saya Nol Besar.

Tahun lalu, saya berhasil untuk mengembangkan diri saya di berbagai hal. Saya ikut les bahasa inggris dan berhasil meningkatkan nilai sebesar 0.5 band di IELTS pada Februari 2018 yang lalu, mampu memperbaiki catatan waktu lari untuk 5k dari 30 menit menjadi 25 menit, gowes sejauh 156 km melintasi suramadu, ikut student concert di tempat les piano, dan banyak hal lainnya. I have invested too much time on improving my self. Tidak sadar bahwa tugas ataupun bekerja menjadi seorang pemimpin jauh lebih besar daripada hanya self development. Apa sih sumber permasalahannya? terlalu percaya diri, terlalu naif, terlalu loose, kurang beribadah? atau mungkin… Saya gagal menjadi diri saya sendiri?

Read the rest of this entry »