Film The Big Short adalah film ber-“genre” finance yang dapat dibilang cukup jarang tampil di jagat perfilman dunia. Beberapa film tentang finance diantaranya adalah: Margin Call, Wolf of The Wall Street, Inside Job, dan Too Big Too Fail. Film ini diadapsi dari buku The Big Short karangan Michael Lewis. Cerita dari buku tersebut utamanya berpusat pada 4 (empat) orang pelaku pasar yang sukses menebak krisis Amerika tahun 2008 dan mengambil keuntungan atas terjadinya krisis dimaksud. Ga tanggung-tanggung, keuntungan yang diperoleh masing-masing orang tersebut pada saat terjadinya krisis mencapai ratusan juta dolar. Oh iya, film ini juga mengikutsertakan beberapa penyanyi, aktris, maupun chef terkenal untuk menggambarkan ilustrasi atas hal-hal yang sulit dipahami oleh orang yang awam di dunia finance.

Meskipun terlambat, saya ingin mengucapkan selamat bagi sebuah film tentang Finance yang diadopsi dari true story: The Big Short. Pada perhelatan oscar yang lalu, film ini memenangkan penghargaan best adapted screenplay. Selain memenangkan best adapted screenplay, film ini juga dinominasikan untuk 4 penghargaan lainnya. Selengkapnya baca di sini.

the big short

Saya akan mencoba menjelaskan film tersebut secara singkat (kayaknya gak singkat deh =P).

Read the rest of this entry »

Advertisements

Kita telah menyelenggarakan helatan besar demokrasi pada tahun 2014 untuk pemilihan Presiden dan pada Desember 2015 untuk memilih Kepala Daerah di sejumlah Kabupaten/Kota. Curious dengan strategi kampanye dalam pemilu baik oleh calon Presiden dan calon Kepala Daerah, jadilah buku ini mampir di meja saya.

Buku How to Win An Election ini sebenarnya adalah terjemahan dari sebuah surat seorang adik, bernama Quintus, kepada kakaknya, bernama Marcus, yang ingin maju menjadi seorang Consul (Pemimpin Tertinggi) di ancient Rome.

image

Surat tersebut ditulis dalam bahasa latin dan kemudian diterjemahkan oleh seorang penulis, Philip Freeman, dalam bahasa inggris. Surat tersebut dibuat pada tahun 64 SM dan secara spesifik ditujukan tepat pada saat kakaknya ingin menyusun strategi kampanye guna memenangkan pemilu yang sudah menggunakan konsep One Man One Vote (OMOV). Sebenarnya surat yang berisi tentang strategi berkampanye ini dibuat sesuai dengan profil sang kakak. Meskipun demikian,  banyak yang setuju bahwa wisdom dalam surat ini juga berlaku bagi semua peserta Pemilu.

Marcus dan Quintus adalah golongan rakyat biasa yang ingin maju memegang tampuk pemerintahan. Sedangkan lawan Marcus, yaitu 2 (dua) orang yang juga ingin maju, adalah golongan bangsawan Roma. Saran dari Quintus yang disampaikan melalui surat kepada kakaknya adalah saran yang sangat-sangat bagus. Timeless dan no-nonsense. Inilah salah satu tulisan klasik mengenai strategi dan filosofi dalam berkampanye guna meraih suara yang masih relevan sampai dengan hari ini. Setelah 20 abad lamanya.

Sejarahnya, Marcus dan Quintus ini punya kesempatan bersekolah di Yunani, pada saat itu. Mungkin disitulah mereka belajar filosofi sehingga bisa belajar dan memahami banyak hal. Kadang-kadang heran juga kenapa kok banyak filsuf itu berasal dari Yunani.

Back to topic. Secara singkat, beberapa saran yang diberikan oleh Quintus kepada kakaknya adalah sebagai berikut:

Make sure you have the backing of your family. Hal pertama yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin naju menjadi pemimpin adalah support dari keluarga. Entah itu dari sisi biaya, waktu, dan lainnya. Selain itu, semua rumor atau isu yang muncul pada saat kampanye, umumnya berasal terkait dengan permasalahan orang yang paling dekat dengan kita. Read the rest of this entry »

Beberapa hari yang lalu, mantan menteri keuangan kita, yang juga adalah seorang Ekonom, yaitu Bapak Chatib Basri, nge-twit tentang keakuratan atas prediksinya yang di tulis pada akhir tahun lalu. He got it right, ditambah dengan pernyataan bahwa kalau ekonom memprediksi akurat, itu kebetulan saja.

image

Kalau ada yang ingin baca tulisannya, bisa dilihat di link berikut ini: Tantangan belum berakhir. I think that this shows us how humble Pak Chatib Basri is. Banyak orang yang biasanya menyombongkan diri kalau bisa menebak sesuatu dengan tepat, apalagi kalau itu adalah hal yang besar.

Terus, kalau memang proyeksi seorang ekonom sering salah, dan bahkan apabila benar lalu dikatakan bahwa itu cuman keberuntungan, terus apa gunanya seorang ekonom memproyeksi kondisi ekonomi ke depan? Ekonom memproyeksi masa depan untuk memberikan warning atau arahan yang perlu dipersiapkan apabila proyeksi tersebut benar-benar terjadi. Kita perlu memiliki awareness agar kita dapat bersiap diri untuk hal yang akan datang. Gampangnya, ramalan akan terjadinya hujan mungkin belum tentu benar terjadi, tapi kita bisa perlu bersiap untuk memiliki dan membawa payung (sedikit tulisan saya yang terdahulu tentang forecasting dapat di baca di link ini).

Tetap sih, butuh skill untuk membuat proyeksi yang baik. Kalau misalnya proyeksi kita salah terus, ngapain orang aware terhadap proyeksi kita. Awareness comes at cost. Misalnya, bawa payung tapi tidak terjadi hujan. Ada buku menarik yang membahas tentang luck and skill yaitu buku karangan Michael J. Mauboussin: The Success Equation: Untangling Skill and Luck in Business, Sports, and Investing. Intinya dapat di lihat pada gambar di bawah ini:

Pure 100% skill only exist at chess, but not so much at (many) market activities.

Read the rest of this entry »

Minggu lalu, rubrik Happy Wednesday yang diasuh oleh Azrul Ananda mengajak semua pembaca Jawa Pos untuk menyampaikan resolusi simple yang patut diterapkan semua orang untuk 2016. Ada hadiah masing-masing Rp 1 juta untuk 30 (awalnya ditetapkan hanya 20, tetapi ternyata pemenangnya mencapai 30) usulan yang terpilih.

HAPPY WEDNESDAY

Untuk lebih lengkapnya, baca link Happy Wednesday sebagai berikut:

  1. Resolusi toleh kanan kiri (23 Des 2015)
  2. Berfikir simple, Hadiah Rp1 Juta (30 Des 2015)
  3. Resolusi Bersyukur Tidak Bisa Menang (6 Jan 2016)
  4. Inilah 20 Resolusi Simple 2016 Pilihan Happy Wednesday (6 Jan 2016)

Berikut ini adalah salah satu resolusi saya untuk tahun 2016, yang sayangnya tidak turut terpilih sebagai salah satu dari 30 resolusi simple, dari lebih dari 3.000 usulan resolusi, menurut pak Azrul.

Resolusi saya adalah terjaga pada saat Khotbah Jumat.

————————————————————-

Terjaga Pada Saat Khotbah Jumat
Resolusi tahun 2016 saya adalah tetap terjaga pada saat khotbah Jumat. Tujuannya adalah agar saya dapat mendengarkan khotbah dengan seksama. Saya sendiri tidak tahu apakah ini simple atau tidak. Secara historis, jumlah khotbah yang saya dengarkan dari awal sampai akhir pada tahun 2015 mungkin hanya sebanyak 6-7 kali. Kalau dihitung dari total 52 Jumat pada tahun 2015, jumlah itu adalah terhitung sedikit. Tenang dan khidmatnya situasi sholat Jumat adalah salah satu hal yang menyebabkan saya menjadi tertidur. Bahkan sebelum khotbah Jumat dimulai! Padahal, saya ingin mendengarkan banyak khotbah Jumat, karena hanya pada saat itulah saya bisa memperoleh siraman rohani dengan tenang. Selain itu, bagi orang-orang seperti saya yang jarang sekali pergi ke suatu lokasi untuk mengikuti pengajian agama, khotbah Jumat adalah cara paling efisien untuk memperoleh siraman rohani. Read the rest of this entry »

Kemarin, tanggal 26 Desember 2015, saya pergi ke toko buku Gramedia di Royal Plaza Surabaya. Niatnya sih pengen beli edisi terbaru dari komik langganan yaitu “Demon King” dan “Ruler of The Land (RoTL)”. Yah, ternyata Demon King-nya masih belum terbit edisi terbarunya. Untungnya, komik RoTL sudah keluar edisi terbarunya sampai edisi 60. Dulu pas terakhir beli di Kupang, NTT masih edisi 58. Yayyyy!

bukuSayangnya, ada aja ya yang buat sedih. Sedihnya adalah karena masih ada (banyak) warga Surabaya yang membuka sampul segel komik untuk dibaca di tempat, meskipun jelas jelas ada peringatan dari toko buku Gramedia yang melarang hal tersebut. Lebih sedih lagi karena pas waktu dulu di Kupang, tidak sekalipun saya pernah melihat ada warga yang membuka sampul segel komik untuk dibaca di tempat.

Oleh karena itu, saya jadi membayangkan tentang masa depan toko buku dan buku bacaan kita saat ini.

Mari kita mulai dengan kondisi saat ini. Sekarang ini, musuh utama toko buku dan buku bacaan adalah internet. Bukan hanya internet sebagai sumber informasi (berita, tips, buku bajakan, scan manga, dll) tapi juga sebagai salah satu bentuk globalisasi dalam akses pasar. Saya sendiri malas kalau mau beli buku tips berinvestasi, tips olahraga, buku cerita anak, buku self help, dan lainnya, karena mayoritas isi dari buku buku semacam itu biasanya sudah ada di internet. Belum lagi scan manga online seperti “Naruto”, “One Piece”, “Bleach”, dan “Detective Conan”, yang keluarnya lebih cepat dibandingkan dengan komik cetaknya. Sedangkan internet sebagai akses pasar misalnya adalah saya sudah 4-5x beli buku secara online di Amazon dibandingkan dengan beli buku secara online melalui situs Indonesia.

Hal tersebut memaksa toko buku (online maupun offline) yang ada di Indonesia harus benar benar berhitung tentang keuntungan dari usaha mereka. Yang paling simple, sebut saja toko buku Periplus. Periplus di Galaxy Mall Surabaya saat ini menempati 1 unit stan saja, lebih kecil dibandingkan dengan 2 tahun lalu yang mencapai 2 unit stan. Selain itu, kalau kita pergi ke Distributor besar majalah yang berlokasi di Jl. Tugu Pahlawan, depan kantor saya saat ini, anda akan menemui bahwa pengunjung di lokasi tersebut menurun jumlahnya dibandingkan dengan masa jayanya. Dulu, saya sering banget ke sana sepulang jam sekolah dasar. Ngapain? Beli komik hasil nyuri duit Umi. Waktu itu, sekitar tahun 1999, beli majalah aja sampe rebutan sama orang lain karena stoknya sudah diborong oleh pedagang majalah eceran di pagi dan siang hari.

Sekarang? Berdasarkan hasil wawancara saya dengan pedagangnya, semua mengeluhkan tentang internet dan cara orang menghabiskan waktunya. Orang sekarang lebih suka mencari berita lewat sosial media yang kebenarannya dipertanyakan dibandingkan dengan majalah yang memenuhi kaidah jurnalistik. Yang lebih mengejutkan lagi, beberapa majalah yang seharusnya terbit rutin secara bulanan, kini sudah tersendat-sendat dan tidak lagi rutin terbit.

Ya sih, di luar itu, bahan bacaan yang tidak terpukul oleh penetrasi internet antara lain adalah buku Novel, buku Otobiografi, dan buku Success Story. Bahkan, Periplus yang sebelumnya hanya fokus menyediakan buku impor, sekarang juga menyediakan buku Novel terbitan penulis indonesia. Gramedia apa lagi. Ketiga jenis buku di atas mendominasi ruang bagian depan Gramedia. Yah, mau gimana lagi? Kan perusahaan harus tetap untung atau laba.

Perusahaan didirikan untuk mencari keuntungan. Termasuk juga perusahaan yang menjual buku bacaan seperti Gramedia, Periplus, Times, Kinokuniya, dan Gunung Agung. Making profit is ethical. Full stop. It keeps business going and running. Tanpa keuntungan yang cukup menurut pemilik, maka usaha tersebut dipastikan akan musnah dari peredaran. Duh, saya ga bisa bayangkan kalau misalnya pergi ke bandara Terminal 1 Juanda atau Terminal 2 Cengkareng dan tidak lagi melihat Periplus di pojokan. Melihat ukuran Periplus Galaxy Mall yang menyusut saja, hati saya sudah teriris. #lebay #uopo Read the rest of this entry »

Pada tanggal 3 Desember 2015 yang lalu, Kantor turut serta dalam perayaan Hari Disabilitas Internasional (HDI). Yak. Keikutsertaan kantor pada acara tersebut adalah adanya semangat bahwa para disable (penyandang cacat) juga harus turut dilayani dan diberikan layanan keuangan yang setara dengan manusia seutuhnya.

Jadi, baik yang tuna netra, tuna daksa, ataupun keterbatasan lainnya, harusnya juga tetap dapat menerima layanan keuangan dalam bentuk yang sama dan setara dengan manusia lainnya. Tidak boleh ada tuna netra yang ditolak pada saat pembukaan rekening tabungan, investasi, pembelian rumah KPR dan lainnya.

Back to topic, acara peringatan HDI 2015 di Surabaya, bertempat di Gedung Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) yang berada di Jalan Tenggilis Mejoyo. Acara diadakan oleh Kantor dimana tempat saya bekerja, BPR Jatim, BK3S, dan beberapa instansi lainnya. Acaranya mulai dari pagi sampai dengan sore, dimulai dengan jalan sehat, sosialisasi, edukasi, dan banyak lagi lainnya hingga berakhir pada sore hari.

Saya rasa banyak para disable yang hadir dari berbagai komunitas, bahkan pemotor yang disable pun turut hadir dalam kegiatan tersebut.

IMG-20151207-WA0012

Saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai kegiatan tersebut., mungkin ada 3 (tiga) hal dari acara tersebut yang sampai dengan saat ini masih terngiang dan terbayang di benak saya.

Disabilitas sangat-sangat memerlukan perhatian lebih dari sektor swasta

Dengan melihat dan mengalami acara yang dikoordinasikan oleh pemerintah dalam hal ini BK3S, dapat saya sampaikan bahwa pengelolaan acara yang kemarin masih jauh dari rating baik. Yah mungkin 6 out of 10. Kalau mengurus acara seperti ini dengan dana yang mencukupi aja masih jauh dari harapan, bagaimana dengan pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan BK3S sehari-hari bagi para disable.

Yayaya, saya tidak akan menyalahkan orang ataupun pemerintah. Yang pasti, saya merasa bahwa masih banyak yang perlu dilakukan bagi para disable. Sangat-sangat banyak. Utamanya mengenai kesetaraan dalam berbagai hal. Saya yakin bahwa bisa saja ada disable dengan kemampuan menulis yang handal diantara semua mereka yang hadir, sayang saja mereka tidak memiliki kesempatan atau media untuk menunjukkan potensi dan kemampuannya.

IMG-20151207-WA0015

Saya berharap bahwa akan semakin banyak orang-orang di luar pemerintah (sektor swasta) yang menaruh concern bagi mereka. Banyak-banyak sekali yang mereka butuhkan.

Teknologi sangat membantu disable untuk berkomunikasi satu dengan lainnya Read the rest of this entry »

 

persimpangan jalan22 November 2015, 4 tahun menggawangi industri

Tiada hentinya menerbitkan regulasi dan melakukan edukasi

Mengawasi instistusi berisiko tinggi

Sebagai tulang punggung utama ekonomi

 

Meskipun masih ada kekurangan di beberapa sisi

Namun engkau selalu berbenah Diri

Demi supervisi terintegrasi

Menjaga segala bentuk keuangan terkonglomerasi

 

Tidak terasa tinggal 30 hari lagi

Waktu bagi diri untuk memantapkan hati

Memilih kanan atau kiri

Yang pasti, semua dapat memilih secara mandiri

Tak ada yang namanya disposisi

 

Sebelum memilih 22 Desember nanti

Yang pasti harus banyak berkontemplasi

Apa yang menjadi tujuan hidupmu selama ini?

Semoga itu bisa menjadi instrospeksi

Read the rest of this entry »