Archives for posts with tag: edukasi

Anda pasti sering melihat peta dunia kan?

Peta dunia adalah simplifikasi atas dunia (bumi) yang sebenarnya adalah berbentuk bola 3 dimensi yang kemudian diproyeksikan dalam peta 2 dimensi.

Peta dunia yang umum kita lihat adalah yang peta bumi yang seperti ini:

peta dunia

Peta dunia tersebut mengambil sudut pandang dengan menggambarkan Amerika, Afrika, Eropa, Asia dan Australia (dari kiri ke kanan). Permasalahannya disini adalah: adanya ilusi bahwa Asia dan Rusia letaknya sangat sangat jauh jika ke Amerika. Kemungkinan tersebut dapat terjadi karena 2 hal:

1. Kita benar-benar tidak mengetahui bahwa bumi itu bulat sehingga mempercayai kebenaran hal tersebut

2. Kita tahu bahwa bumi itu bulat namun tertipu dengan adanya penggambaran/sudut pandang dari peta tersebut.

Saya yakin ada beberapa pembaca yang masuk kategori 2 (tertipu karena sudut pandang) =P

Read the rest of this entry »

Advertisements

Beberapa minggu lalu, ketika saya jalan-jalan ke Lumajang dan kebetulan ngobrol tentang warisan dari Saudara lainnya, saya menjadi teringat bahwa ada satu hal yang mengganggu di pikiran saya terkait dengan warisan.

Apa sih warisan itu? Warisan adalah peninggalan dari orang (biasanya orang tua dan Saudara tapi tidak menutup kemungkinan juga pemberian dari orang lain) yang sudah meninggal. Kalau peninggalan tersebut diberikan sebelum orangnya meninggal maka disebut dengan Hibah.

Dalam islam, Hukum Waris diatur dalam surat An-Nisa ayat 11 dan 12.

Harta waris tersebut secara hukum memang telah menjadi hak milik bagi penerima waris. Meskipun demikian, saya berpendapat bahwa penerima tersebut bertanggung jawab atas pengelolaan dan penggunaan Warisan dimaksud.

harta warisan

Masyarakat dan Ahli Waris perlu diedukasi mengenai penggunaan Warisan tersebut sebagai bagian dari edukasi keuangan. Karena sangat disayangkan kalau warisan yang berupa Aset, misalnya tanah, harus berpindah tangan (dibeli orang lain) karena kebutuhan dana dari pemilik warisan.

Contohnya adalah kasus sebagai berikut:

Sebut saja ada keluarga Bapak Adi yang memiliki 2 orang anak bernama Budi dan Chandra. Bapak Adi memiliki tanah pekarangan (pertanian) dengan luas 2 hektar. Sepeninggal Bapak Adi, tanah tersebut diwariskan kepada 2 orang anak tersebut sehingga masing-masing mendapat 1 hektar tanah dimaksud.

Budi dan Chandra kemudian menjadi dewasa dan masing-masing telah menikah dan masing-masing mempunyai 3 orang anak. Sepanjang hidup mereka berdua, tanah tersebut dikelola dengan baik oleh Budi dan Chandra sehingga mampu memenuhi kebutuhkan hidup sehari-hari. Chandra sendiri bahkan dapat menghasilkan 3 unit rumah atas pengelolaan tanah tersebut.

Ternyata, Chandra kemudian meninggal dan kemudian mewariskan tanah tersebut kepada 3 orang anaknya sehingga masing-masing mendapatkan 1 rumah dan warisan tanah yang sama dengan luasan yang relatif kecil yakni 1/3 bagian dari tanah tersebut yakni 0,33 hektar.

Warisan

Nah, disinilah terjadi permasalahan atas pengelolaan tanah tersebut. Tanah yang seluas 0,33 hektar tersebut sudah tidak lagi memenuhi aspek economics of scale yang menyebabkan pengelolaan tanah tersebut tidak lagi menghasilkan uang dalam jumlah yang memadai.

Selain aspek economics of scale tersebut, bisa jadi warisan tersebut tidak tepat jika diberikan kepada masing-masing anak khususnya terkait dengan skill untuk pengolahan tanah yang bisa berbeda satu dengan yang lainnya sehingga anak yang merasa tidak dapat mengolah tanah tersebut akhirnya akan menjual warisan tersebut. Read the rest of this entry »

Minggu lalu, saya membaca sejumlah bab dari salah satu Book of The Year 2011 yang berjudul Thinking, Fast and Slow dari Daniel Kahnemnan (2011). Daniel Kahneman adalah penerima Nobel di bidang Ekonomi atas usahanya di bidang psikologi yang mengubah teori di bidang rational judgment dan decision making.

thinking fast

Saya tidak akan membahas lebih banyak tentang buku ini karena saya sendiri belum selesai membacanya =P.

Yang ingin saya bahas disini adalah adanya bias dalam penilaian tugas/esay di dunia pendidikan.

Waktu dulu masih kuliah dan menjadi asisten dosen, saya pernah ditugaskan untuk membuat soal ujian dan memberikan nilai atas ujian mahasiswa. Read the rest of this entry »

EF, IALF dan Harvard Business School. Nama-nama besar sekolah, tempat belajar dan bimbingan belajar yang terkenal di seantero negeri.

Kenapa sih kok mereka bisa begitu bagus?

Saya akan menjelaskan teori dari diri saya sendiri mengenai mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Dulu, saya pernah les bahasa inggris di EF dan LIA. Itulah sebabnya saya dapat menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara kedua tempat kursus tersebut.

Dulu saya les di EF sampai dengan level 14 (11 level, saya mulai dari level 4). Kalau di LIA saya hanya les sampai dengan level 8 (1 level, saya mulai dari level 8).

Mengingat bahwa saya terbiasa dengan metode belajar di EF. Mulai dari awal masuk LIA saya langsung mencari perbedaan antara EF dengan LIA.

Read the rest of this entry »