Film The Big Short adalah film ber-“genre” finance yang dapat dibilang cukup jarang tampil di jagat perfilman dunia. Beberapa film tentang finance diantaranya adalah: Margin Call, Wolf of The Wall Street, Inside Job, dan Too Big Too Fail. Film ini diadapsi dari buku The Big Short karangan Michael Lewis. Cerita dari buku tersebut utamanya berpusat pada 4 (empat) orang pelaku pasar yang sukses menebak krisis Amerika tahun 2008 dan mengambil keuntungan atas terjadinya krisis dimaksud. Ga tanggung-tanggung, keuntungan yang diperoleh masing-masing orang tersebut pada saat terjadinya krisis mencapai ratusan juta dolar. Oh iya, film ini juga mengikutsertakan beberapa penyanyi, aktris, maupun chef terkenal untuk menggambarkan ilustrasi atas hal-hal yang sulit dipahami oleh orang yang awam di dunia finance.

Meskipun terlambat, saya ingin mengucapkan selamat bagi sebuah film tentang Finance yang diadopsi dari true story: The Big Short. Pada perhelatan oscar yang lalu, film ini memenangkan penghargaan best adapted screenplay. Selain memenangkan best adapted screenplay, film ini juga dinominasikan untuk 4 penghargaan lainnya. Selengkapnya baca di sini.

the big short

Saya akan mencoba menjelaskan film tersebut secara singkat (kayaknya gak singkat deh =P).

Pada awal 2000-an, sekitar tahun 2005 – 2006, beberapa orang menyadari bahwa telah terjadi bubble pada sektor perumahan. Salah satu tokoh utama pada film ini yaitu Dr. Michael Burry (yang diperankan oleh Christian Bale) juga menyadari hal tersebut. Namun, tidak seperti orang-orang lainnya. Bubble tersebut didorong oleh tingginya permintaan akan rumah di Amerika. Utamanya disebabkan karena harga rumah yang terus naik dan betapa mudahnya memperoleh kredit untuk membeli rumah. Dengan melihat data-data yang ada secara publik maupun privat, Dr. Burry meyakini bahwa pasar memberikan nilai yang salah terhadpa produk keuangan di sektor perumahan.

penjelasan penulis blog =P

Pada akhir tahun 1980-an, bank di Amerika menelurkan produk baru yang dinamakan dengan Assets Backed Security (ABS) atau di Indonesia disebut dengan Efek Beragun Aset (EBA). Pelaku pasar di Amerika dapat menerbitkan surat utang baru dengan berdasarkan pada cashflow atas aset yang telah ditetapkan. Dalam film ini, aset dimaksud adalah kredit perumahan. Jadilah sebuah Mortgage Backed Security (MBS).

Sayangnya, seiring dengan perkembangan dunia finance dan tuntutan pasar di Amerika yang haus akan keuntungan, akhirnya terjadilah perkembangan pasar derivatif yang semakin meluas. MBS pun menjadi salah satu aset yang dijual derivatif-nya. Salah satu bentuk derivatif dari MBS adalah Collateral Debt Obligation (CDO).

Kayak gimana sih CDO itu??

Jadi begini, tahu kan kalau kredit itu punya kualitas yang terkait dengan ketepatan pembayaran? Nah, seiring dengan sangat besarnya jumlah mortgage backed security, pastinya tidak semua kredit perumahan yang ditawarkan punya kualitas lancar. Masing-masing punya rating dengan kategori AAA (Prime) s/d D (Junk). Nilai atau rating dari sebuah instrumen keuangan dilakukan oleh lembaga rating.

Rating dari surat berharga atau MBS yang dijual kepada pasar adalah sama dengan rating kredit yang menjadi sumber cashflow dari MBS tersebut. Ilustrasi rating dari kredit adalah sebagai berikut:

rating kredit

Masalahnya adalah, nilai pasar MBS sangat terkait dengan ratingnya, Kalau kredit yang menjadi underlying MBS dikategorikan macet, maka secara otomatis pemilik MBS tidak akan menerima pembayaran yang telah dijanjikan. Rating surat berharga berkorelasi positif dengan dan harganya. Semakin bagus ratingnya, maka semakin mahal harganya, demikian sebaliknya.

Nah, kalau misalnya tidak semua kredit perumahan itu adalah tergolong kredit dengan golongan A atau bisa kita sebut dengan kredit perumahan subprime (subprime mortgage), gimana ya caranya untuk membuat agar rating kreditnya bisa terdongkrak. Jawabannya adalah dengan melakukan diversifikasi atas cashflow aset dalam MBS. Ya, inilah salah satu bentuk derivatif MBS yang kita kenal dengan CDO. Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

derivatif efek beragun aset

Ya, itulah bentuk CDO di sana. Contoh di atas adalah bentuk CDO dengan underlying berupa MBS yang underlyingnya adalah kredit dengan mostly rating-nya adalah B. Idenya adalah diversifikasi hal buruk yang dikemas dengan baik akan menghasilkan yang baik (later, it turned to be wrong). Bank di sana berasumsi bahwa meskipun secara rata-rata kemungkinan gagal bayar atas produk MBS tersebut adalah 5%, tapi kan tidak mungkin kredit tersebut akan macet secara bersamaan dengan parameter lokasi penyaluran, skala rumah yang dibiayai oleh kredit, dan detail lokasinya (yang bisa jadi terkait dengan sumber penghasilan penerima kredit).

Bank yang menjual produk CDO pun mengajukan agar produk ini dapat dinilai dengan nilai rating baik (>= rating A) kepada lembaga rating. Ya, dan ternyata, lembaga rating tidak melakukan penilaian secara objektif. Gimana mau objektif, wong hidupnya berasal dari kegiatan melakukan rating. Sekali mereka menilai dan memberi rating jelek, maka konsumen akan mencari lembaga rating lain yang mau “dibeli” dan memberi rating baik. Akhirnya, lembaga rating pun memberikan nilai A (Prime) atas CDO tersebut.

Masalah tidak berhenti di situ. Pelaku pasar di Amerika ga berhenti kreativitasnya. Mereka menjual derivatif atas CDO atau derivatif atas derivatif. CDO dengan kualitas A dipackage dan diversifikasi dengan baik supaya nilainya bisa naik. Dari B menjadi BB, dari BB menjadi A, dari A menjadi AAA.

Berapa tingkat kah derivatif yang dijual di pasar Amerika? Banyak.. Baanyaaak.. (kayak tokopedia)

Rumit kan? Maaf ya. Kalau ga jelas, mungkin bisa komen di bawah =(

—————————————————————-

Kembali ke laptop.

Seiring dengan bubble yang terjadi, Dr. Burry pun meyakini bahwa the bubble wont last long. Dia pun menggunakan semua uang yang ada di bawah kelolaannya untuk bertaruh melawan nilai dari CDO dan MBS (short). Dengan cara apa? meminta bank untuk membuat produk Credit Default Swap (CDS) untuk produk CDO dan MBS yang ada di pasar.

Penjelasan penulis blog.

Apakah yang dimaksud dengan CDS??

(yang MBS, CDO, dan rating aja belum selesai kok ini ada CDS yang baru lagi.. Ckckckck)

CDS adalah salah satu bentuk asuransi atas kredit atau surat berharga. Jadi, kalau sebuah kredit atau surat berharga dinyatakan macet, maka pemilik CDS akan menerima kembali pokok atau dana yang telah diinvestasikan. Intinya, CDS ini mirip dengan asuransi jiwa atau asuransi kredit, kalau misalnya seseorang meninggal atau kreditnya macet, maka pihak terkait akan menerima uang sebagai gantinya. Ini dinamakan dengan prinsip insurable interest atau disebut dengan Hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan keuangan, antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara hukum..

BEDANYA adalah produk CDS adalah sebuah produk derivatif, bukan sebuah bentuk asuransi pada umumnya. Bedanya di mananya? kembali ke ilustrasi asuransi. CDS menyatakan bahwa saya bisa bertaruh atas nyawa siapapun yang apabila kalau orang tersebut mati besok, saya akan menerima uang penggatinya. Nyawa siapapun, tanpa terkecuali. Judi ini judi =P

Jadi, anda tidak perlu punya hubungan apapun dengan orang yang anda pertaruhkan nyawanya. Aku mau dong beli CDS buat seru-seruan… Bhakakak.

—————————————————————

Ketika datang untuk mengajukan diri membeli produk CDS di Bank-Bank besar, Dr. Burry ditertawakan oleh para manajer investasi di bank tersebut. Mereka tidak percaya kalau ada orang yang mau bertaruh melawan sebuah produk keuangan (MBS) yang tergolong memiliki rating Prime atau AAA. Taruhannya menggiurkan kalau misalnya Dr, Burry yang benar. Produk CDO/MBS dengan nilai $100 juta, diasuransikan dengan nilai “premi” sebesar $5 juta. Taruhan 1 banding 20. Kalau misalnya CDO tersebut menjadi macet, Dr. Burry akan menjadi jutawan baru ($100 juta), kalau tidak, dia kehilangan $5 juta. Ga tanggung-tanggung, Dr. Burry membeli CDS atas CDO/MBS dengan nilai puluhan juta dolar yang akan menjadi ratusan juta dolar kalau tebakannya benar.

Deal pun terjadi. Bank sangat senang, karena mereka meyakini bahwa probabilitas CDO/MBS menjadi macet sangat rendah. Rumor mengenai Dr. Burry pun terdengar oleh pelaku pasar lainnya.termasuk Mark Baum (diperankan oleh Steve Carrel) dan Ben Rickert (diperankan oleh Brad Pitt). Mereka pun mengamini langkah dari Dr. Burry. Membeli CDS karena meyakini bahwa CDO/MBS yang ada di pasaran memiliki kemungkinan default yang tinggi, lebih dari yang diperkirakan oleh Bank yang menjual produk tersebut.

Namun sebelum membeli CDS tersebut, Mark Baum dan team mencoba meyakinkan diri untuk datang ke debitur-debitur kredit perumahan. Mereka menjumpai rumah kosong di mana-mana, rumah dengan tunggakan, penari striptease yang memiliki kredit rumah sebanyak 4 (empat) rumah sekaligus, dan banyak lainnya. Bahkan dia juga datang ke lembaga rating untuk menanyakan sekaligus memprotes rating AAA yang diberikan bagi produk CDO/MBS tersebut.

Setelah yakin, akhirnya dia pun membeli CDS dalam jumlah yang besar. Klimaks film ini ada pada, memudarnya kepercayaan investor kepada Dr. Burry dan Mark Baum karena tidak adanya tanda-tanda atas terjadinya kemacetan di sektor perumahan. Otomatis, kalau tidak ada tanda-tanda macet kredit di sektor perumahan, investor Dr. Burry dan Mark Baum akan kehilangan banyak sekali uang. Bahkan Dr. Burry pun sudah berencana untuk menjual perusahaannya demi menyelamatkan dana investor.

Tapi ternyata, keruntuhan sektor perumahan pun tiba tidak lama kemudian. Akhir tahun 2007, jumlah kredit macet di sektor tersebut meningkat drastis. Seperti domino, kredit macet di sektor perumahan –> nilai MBS turun –> nilai CDO turun –> nilai derivatif CDO turun –> nilai derivatif atas derivatif CDO turun –> dan seterusnya. Jadilah krisis keuangan di Amerika (tulisannya udah panjang, ga usah ditambahi kenapa terjadi krisis, belum tentu juga saya benar.. haha). Ditambah lagi, ternyata bank yang menjual CDS, ternyata bertaruh atas surat MBS/CDO-nya sendiri. Sudah jatuh tertimpa tangga.

Akhirnya, 4 (empat) orang pelaku utama di buku ini menjadi kaya raya atas taruhannya tersebut. Di akhir video, ada sentimen moral yang dimasukkan di film ini, bahwa memang saya jadi kaya raya atas taruhan saya, tapi saya bertaruh atas perekonomian Amerika, atas seluruh penduduk Amerika. Moral.

Jadi, kalau ada teman yang bertanya kenapa kok terjadi krisis keuangan di Amerika, jangan cuman dijawab karena subprime mortgage ajah ya. Subprime mortage saja, tidak akan menyebabkan krisis di Amerika, tapi ketika subprime mortage bergabung dengan bubble, inovasi yang tidak terkendali di bidang keuangan (MBS/CDO/derivatif), mispricing of risk (yang berasal dari wrong rating) menyebabkan bank tidak menyediakan modal yang cukup, maka jadilah krisis Amerika tersebut. Jadi, root cause of the crisis itu apa? pertanyaan bagus yang saya pun masih belum tahu jawabannya. Btw, kemana pengawas bank-nya? even the supervisor (The Federal Reserve) can’t manage to understand the complexity of the trade.

Kalau pengawas bank di Amerika yang canggih aja ga bisa, apalagi pengawas bank di Indonesia =P Tapi saya yakin semua telah belajar dari sini.  Telah banyak pula perubahan kebijakan di dunia keuangan yang berlaku secara global.

Aniwei, harus nonton The Big Short. Refreshing and insightful. Review yang lain atas film ini ada di tulisan sebagai berikut: The Big Short dan Pelajaran Penting Mengenai Intervensi Pemerintah oleh Djohan Rady. Pandangan saya sedikit berbeda (ga semua) dengan penulis review tersebut, tapi beda boleh kan =D Oh iya, kalau mau lebih lengkap lagi, baca Liar’s Poker (Michael Lewis) dan After The Music Stopped (Alan S. Blinder).

Demikian review dari saya, panjang juga ya =P

Selamat menonton =)

Advertisements