Abah,

Hari ini adalah Hari Raya Idul Adha 1436 H, tepat seminggu setelah kepergianmu ke sisi-Nya. Minggu lalu, saya merasakan sedihnya kehilanganmu, lebih-lebih lagi karena saya tidak dapat menemani di ranjang peristirahatanmu yang terakhir. Untungnya saya masih sempat melihat air muka-mu termasuk mensholatkanmu di masjid, insyaAllah terlihat tenang dan damai. Kira-kira pukul segini juga, saya melihatmu jenazahmu untuk yang terakhir kali dan mengantarkanmu menuju liang lahat/makam-mu.

Abah,

Saya seringkali menyampaikan ke orang lain bahwa hidup itu diukur dari Delta-nya, bukan dari nilai akhirnya.  Saya yakin Delta yang abah capai sampai dengan akhir hayat adalah cukup tinggi. Sebenarnya, anakmu ini punya pemikiran bahwa sukses atau pencapaian yang paling utama bagi setiap manusia adalah surpassing the older generation atau dengan kata lain adalah mencapai Delta yang lebih tinggi daripada yang telah orang tuanya/Abah capai.

Pencapaian Delta itu adalah lifelong achievement dan hanya akan bisa diketahui kalau kita sudah di ranjang peristirahatan terakhir. Saya hanya akan tahu apakah saya sudah melebihi pencapaian abah, pada saat saya berada di detik-detik terakhir death bed saya. Apakah saya dapat melampaui pencapaian abah di keluarga, karir, maupun ibadah. Jujur, saya juga iri dengan cara meninggal abah yang katanya sama sekali tidak merepotkan orang lain dan terjadi dengan cepat tanpa harus melewati proses sakaratul maut yang menyakitkan.

Abah,

Satu hal pemberian dari Allah SWT yang perlu sangat-sangat amat saya syukuri adalah dipanjangkannya usiamu sampai dengan saat saya dipindahtugaskan ke Surabaya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana misalnya engkau menutup usia ketika saya di NTT, bagaimana sedihnya Umi kalau misalnya dia harus tinggal sendirian di Surabaya, tanpamu dan tanpa saya sekeluarga yang harus dinas di NTT. Bahkan sampai dengan hari-hari di akhir hayatmu, engkau berupaya keras untuk memastikan kami hidup nyaman di Surabaya, antara lain untuk mencarikan kami kontrakan, termasuk agar kami bisa hidup mandiri.

Abah,

Engkau meninggalkan kami di usia yang relatif muda, yakni 54 tahun. Sakit jantung yang engkau derita sekitar 18 bulan yang lalu, tidak menyebabkan engkau benar-benar berhenti merokok maupun minum kopi. Dari situ, saya sangat menyadari pentingnya kesehatan. Andai saja, engkau benar-benar berhenti merokok sejak peristiwa itu, bisa saja kita lebih lama bersama. Tapi saya meyakini pepatah lama yang menyatakan bahwa “tak ada rezeki yang akan tercecer, dan seseorang tidak akan mati sebelum menghabiskan jatah rezekinya di dunia”.

Abah,

Saya benar-benar belum siap menggantikan posisimu di berbagai bidang, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Saya benar-benar harus belajar darimu mengenai ketegasan. Abah juga yang menjadi tempat saya berdiskusi mengenai hal-hal sulit. Saya senang telah memperoleh persetujuan dari Abah untuk kembali menuntut ilmu. Saya yakin bahwa kesulitan saya untuk kembali menuntut ilmu salah satunya disebabkan karena engkau masih belum ridho dengan keputusan kami. Sebenarnya saya juga ingin bertanya, manakah tempat bekerja terbaik yang harus kami pilih akhir tahun ini. Sayangnya, hal tersebut tidak sampai terucap untuk kita diskusikan bersama..

Abah,

Mungkin saya telah jauh darimu selama lebih dari 5 tahun terakhir. Telah mengecewakanmu, tidak mengangkat teleponmu, mungkin aku lakukan secara sengaja maupun tidak. Semoga engkau memaafkan segala hal-hal buruk yang aku lakukan terhadapmu. Jujur pada saat engkau pergi, saya “hanya” merasa sedih. Tapi sedih itu semakin meningkat seiring dengan saya menyadari besarnya perbedaan dan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar abah selama 5 tahun tersebut. Hebat. Saya berharap bisa lebih menggali dan menemukan sendiri hal-hal baik yang engkau lakukan selama saya jauh dari mu.

Memang tidak semuanya hal baik, tapi saya akan berupaya untuk menjauhi hal-hal buruk yang engkau lakukan, dan fokus pada hal baiknya.

Baiklah, mari kita akhiri posting ini, tujuan tulisan ini sebenarnya adalah untuk menginspirasi bahwa orang tua kita besar perannya bagi kita. No drama, no curcol.

Dulu, saya pernah menulis mengenai doa untuk orang tua di sini.

Artinya: “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mengasihi aku diwaktu kecil.”

Perlu ditekankan arti “… kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mengasihi aku diwaktu kecil.

Semoga anak abah menjadi anak yang sholeh dan amalan ibadah abah dalam membesarkan anaknya diterima oleh-Nya

Doa-ku menyertai Abah.. Aamiin..

Selamat memuliakan dan mendoakan orang tua kita masing-masing, baik orang tua yang sudah tiada, lebih-lebih bagi orang tua yang masih ada =)

Advertisements