Archives for posts with tag: Buku

Kemarin, tanggal 26 Desember 2015, saya pergi ke toko buku Gramedia di Royal Plaza Surabaya. Niatnya sih pengen beli edisi terbaru dari komik langganan yaitu “Demon King” dan “Ruler of The Land (RoTL)”. Yah, ternyata Demon King-nya masih belum terbit edisi terbarunya. Untungnya, komik RoTL sudah keluar edisi terbarunya sampai edisi 60. Dulu pas terakhir beli di Kupang, NTT masih edisi 58. Yayyyy!

bukuSayangnya, ada aja ya yang buat sedih. Sedihnya adalah karena masih ada (banyak) warga Surabaya yang membuka sampul segel komik untuk dibaca di tempat, meskipun jelas jelas ada peringatan dari toko buku Gramedia yang melarang hal tersebut. Lebih sedih lagi karena pas waktu dulu di Kupang, tidak sekalipun saya pernah melihat ada warga yang membuka sampul segel komik untuk dibaca di tempat.

Oleh karena itu, saya jadi membayangkan tentang masa depan toko buku dan buku bacaan kita saat ini.

Mari kita mulai dengan kondisi saat ini. Sekarang ini, musuh utama toko buku dan buku bacaan adalah internet. Bukan hanya internet sebagai sumber informasi (berita, tips, buku bajakan, scan manga, dll) tapi juga sebagai salah satu bentuk globalisasi dalam akses pasar. Saya sendiri malas kalau mau beli buku tips berinvestasi, tips olahraga, buku cerita anak, buku self help, dan lainnya, karena mayoritas isi dari buku buku semacam itu biasanya sudah ada di internet. Belum lagi scan manga online seperti “Naruto”, “One Piece”, “Bleach”, dan “Detective Conan”, yang keluarnya lebih cepat dibandingkan dengan komik cetaknya. Sedangkan internet sebagai akses pasar misalnya adalah saya sudah 4-5x beli buku secara online di Amazon dibandingkan dengan beli buku secara online melalui situs Indonesia.

Hal tersebut memaksa toko buku (online maupun offline) yang ada di Indonesia harus benar benar berhitung tentang keuntungan dari usaha mereka. Yang paling simple, sebut saja toko buku Periplus. Periplus di Galaxy Mall Surabaya saat ini menempati 1 unit stan saja, lebih kecil dibandingkan dengan 2 tahun lalu yang mencapai 2 unit stan. Selain itu, kalau kita pergi ke Distributor besar majalah yang berlokasi di Jl. Tugu Pahlawan, depan kantor saya saat ini, anda akan menemui bahwa pengunjung di lokasi tersebut menurun jumlahnya dibandingkan dengan masa jayanya. Dulu, saya sering banget ke sana sepulang jam sekolah dasar. Ngapain? Beli komik hasil nyuri duit Umi. Waktu itu, sekitar tahun 1999, beli majalah aja sampe rebutan sama orang lain karena stoknya sudah diborong oleh pedagang majalah eceran di pagi dan siang hari.

Sekarang? Berdasarkan hasil wawancara saya dengan pedagangnya, semua mengeluhkan tentang internet dan cara orang menghabiskan waktunya. Orang sekarang lebih suka mencari berita lewat sosial media yang kebenarannya dipertanyakan dibandingkan dengan majalah yang memenuhi kaidah jurnalistik. Yang lebih mengejutkan lagi, beberapa majalah yang seharusnya terbit rutin secara bulanan, kini sudah tersendat-sendat dan tidak lagi rutin terbit.

Ya sih, di luar itu, bahan bacaan yang tidak terpukul oleh penetrasi internet antara lain adalah buku Novel, buku Otobiografi, dan buku Success Story. Bahkan, Periplus yang sebelumnya hanya fokus menyediakan buku impor, sekarang juga menyediakan buku Novel terbitan penulis indonesia. Gramedia apa lagi. Ketiga jenis buku di atas mendominasi ruang bagian depan Gramedia. Yah, mau gimana lagi? Kan perusahaan harus tetap untung atau laba.

Perusahaan didirikan untuk mencari keuntungan. Termasuk juga perusahaan yang menjual buku bacaan seperti Gramedia, Periplus, Times, Kinokuniya, dan Gunung Agung. Making profit is ethical. Full stop. It keeps business going and running. Tanpa keuntungan yang cukup menurut pemilik, maka usaha tersebut dipastikan akan musnah dari peredaran. Duh, saya ga bisa bayangkan kalau misalnya pergi ke bandara Terminal 1 Juanda atau Terminal 2 Cengkareng dan tidak lagi melihat Periplus di pojokan. Melihat ukuran Periplus Galaxy Mall yang menyusut saja, hati saya sudah teriris. #lebay #uopo Read the rest of this entry »

Advertisements

Don’t judge a book by its cover. Pepatah lama yang cukup sering kita gunakan.

Namun demikian, saya benar-benar ingin membahas bahwa kita tidak boleh hanya menjudge isi sebuah buku dari cover.

Saya sendiri jarang kali menilai sebuah buku dari covernya dan biasanya dalam menilai sebuah buku saya menggunakan testimoni dari orang yang sudah membaca buku tersebut.

Eh, kok kebetulan jaman sekarang kok ya di buku-buku yang tersebar di banyak toko buku seperti Gramedia, Periplus dan lainnya sudah mencantumkan testimoni pada Cover buku tersebut (baik cover depan maupun cover belakang). Misalnya pada buku berikut ini:

Cover buku

Testimoni dari buku itu dibuat oleh Tata Suharta, Aktivis Muda sebagai berikut:

Membaca buku ini seperti menapaki gelombang sejarah, merefleksikan, kenyatan masa lalu, realitas masa kini dan mencoba mendefinisikan masa depan. Di tengah kemelut ekonomi, huku, sosial dan politik dalam skup kebangasaan Indonesia diperlukan gagasan atau pemikiran sistematis dalam kerangka global untuk menyegarkan aktivitas setiap gerakan kepemudaan dan kebangsaan. Buku ini sangat menggugah dan menyadarkan.

Kalau dengan testimoni kayak gitu, buku ini cocok dibaca untuk siapa ya? Hehe..

Beberapa minggu yang lalu, saya baru saja selesai membaca buku Fooled by Randomness-nya Nassim Nicholas Taleb. A very good book untuk para pekerja di bidang keuangan.

Di dalam buku itu dibahas tentang Survivorship Bias yang dialami oleh manusia khususnya dalam kaitannya dengan investasi.

Survivorship bias itu kalau dalam kehidupan sehari-hari misalnya adalah: banyak generasi muda kita saat ini yang ingin menjadi artis dengan melihat artis-artis muda yang saat ini dapat tetap eksis dan sukses (survivor) tanpa menyadari betapa banyaknya artis muda lainnya yang sudah tenggelam dan anak-anak muda lainnya yang ingin menjadi artis.

Nah, kalau dalam permasalahan buku ini, kita juga dapat mengalami survivorship bias tersebut.

Read the rest of this entry »