Ah, kali ini saya terlambat untuk menambahkan tulisan pada blog saya, seharusnya saya menulis minimal 1 kali dalam 1 bulan (oktober kemarin saya sama sekali tidak menambahkan tulisan di blog). Maafkeun yak =D

——————————————————————————————-

Oke, kali ini saya akan membahas beberapa miskonsepsi dalam menampilkan grafik atau gambar yang menjelaskan tentang data.

Ilmu untuk menjelaskan/menampilkan grafik ini utamanya saya peroleh dari mata kuliah statistik. Saya masih ingat sekali waktu Dosen saya (Dr. Nani Kurniati) menjelaskan tentang dasar statistik dulu pada waktu semester 1 =P Tentunya ditambah dengan ilmu dari ebook, majalah dan lainnya =)

Hadeh, ternyata menampilkan grafik saja ada ilmunya yaa.. hahaha..

Oke, langsung aja pada konsep dan aplikasinya.

Saya sering sekali melihat kesalahan dalam menampilkan grafik. Kesalahannya bukan main, pada publikasi negara ataupun laporan keuangan perusahaan kita masih dapat melihat adanya kesalahan dalam menampilkan grafik tersebut.

Kesalahan dalam tampilan grafik memang tidak fatal, tapi informasinya yang ditampilkan menjadi kurang dapat dicerna dengan baik atau bahkan “too obvious”.

Langsung aja kita lihat 5 (lima) contoh grafik dan bagaimana seharusnya grafik tersebut ditampilkan.

Contoh 1: Urutan

Graphic 1 - Most Common

Grafik diperoleh dari: Leading CEOs: A Statistical Snapshot of S&P 500 Leaders

Apa sih kesalahan dari grafik tersebut, grafik tersebut diurutkan berdasarkan alfabet pada sumbu X (dari Academia, Banking s/d Sales). Selain itu, legenda (penjelasan) dengan informasi Most Common Career Functions seharusnya adalah menjadi Judul pada grafik tersebut.

Hal tersebut menyebabkan kita tidak bisa membandingkan most common career function antara satu dengan yang lainnya. Seharusnya grafik tersebut diurutkan berdasarkan share terbesar yang diukur dari Sumbu Y. Sehingga diperoleh gambar sebagai berikut:

Graphic 1 - Most Common - best

Contoh 2: Bar Chart

Kesalahan dalam tampilan Bar Chart ini adalah dia tidak dimulai dari angka 0 (dimulai dari 116.000) sehingga terjadi dilusi antara laba (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 2011 dengan 2010.

image

Grafik diperoleh dari: Laporan Tahunan Bank Kalsel 2011

Hal tersebut menyebabkan kita dapat mengira terjadi peningkatan lebih dari 2x lipat dari laba tahun 2010 pada tahun 2011. Untung saja kesalahan ini dapat diminimalisir dengan adanya tampilan value pada masing-masing bar.

Grafik ini juga kurang memuat data yang cukup, untuk menampilkan suatu growth sebaiknya digunakan data minimal 3 tahun.

Gambar tersebut diatas dapat diperbaiki dengan menambahkan 1 data laba tahun 2009 serta memulai sumbu Y dari angka 0 atau ditampilkan dengan line chart seperti gambar berikut:

dalam jutaan rupiah

Perbaikan Graphic 2 - Bar Chart

Kalau memang terpaksa harus menampilkan data dengan bar chart, namun terdapat data outlier yang jika ditampilkan dapat terlalu besar, maka anda dapat menggunakan alternatif gambar seperti yang dimiliki oleh the economist sebagai berikut:

Good Graphics Bar Chart

Di grafik tersebut terdapat potongan pada Negara South Africa dengan valuenya adalah 114,8. Bagus bukan grafiknya? dan mereka tetap memulainya dari angka 0 =)

Untuk graphics The Economist tersebut, tidak bisa dibuat dengan excel, dia harus dibuat dengan R language. Kapan-kapan deh dibahas apa itu R language =P

3 (tiga) grafik berikutnya akan saya sambung di post berikutnya yak! Tunggu kehadirannya pada minggu ini =D

Selamat membuat publikasi grafik =)

Advertisements