Bayangkan anda sebagai seorang praktisi risk management yang kemudian menghadapi kasus sebagai berikut:

“Alkisah, ada seorang CEO baru di perusahaan manajemen aset yang berlokasi di Indonesia. CEO tersebut adalah seorang laki-laki berkebangsaan Amerika. Pada minggu pertama, dia melakukan transaksi dengan nominal yang sangat besar, lebih dari 10 miliar dolar. CEO tersebut melakukan transaksi secara mandiri tanpa melalui proses manajemen risiko pada umumnya di sebuah perusahaan antara lain melalui komite, manajemen risiko, pemisahan tugas, dan lainnya. CEO tersebut juga tidak menyusun standar operasi secara tertulis yang komprehensif terkait dengan kegiatan tersebut. Dia hanya menuliskan alasan dan pertimbangan atas transaksi tersebut pada selembar kertas A4.”

Secara text-book dan pengalaman anda sebagai seorang praktisi yang telah malang melintang di dunia keuangan dan manajemen risiko, pasti anda akan menganggap apa yang dilakukan oleh CEO tersebut adalah rogue trading, melanggar prinsip manajemen risiko, dan lainnya.

Kalau misalnya saya tambahkan informasi bahwa nama CEO baru tersebut adalah Warren Buffet, salah satu tersukses di dunia selama 1 abad terakhir, apakah pendapat anda akan tetap sama seperti sebelumnya? Haha!

—————————————————————————————————————-

Saya punya kebiasaan baru selama sebulan terakhir: mendengarkan Podcast. Apa itu podcast? bisa dibaca di sini. Intinya, podcast adalah rekaman audio yang membicarakan tentang sebuah topik tertentu. Nah, minggu lalu saya mendengarkan sebuah podcast yang dibawakan oleh jurnalis Financial Times: Warren Buffet’s Cash Dillema. Podcast tersebut menceritakan tentang pengelolaan Berkshire Hathaway oleh Warren Buffet. Ada bagian yang sangat menggelitik di podcast tersebut yaitu tentang praktik transaksi yang dilakukan oleh Warren Buffet sebagai CEO Berkshire Hathaway. Anda bisa mendengarkan bagian tersebut pada menit 3:00 – 6:00.

warren buffet

Source: cnbc.

Bahkan pembawa acara podcast yang notabene sering melakukan coverage terhadap perusahaan besar di dunia keuangan pun kaget dengan hal tersebut. Dia juga membandingkannya dengan alur transaksi dari bank besar di US yang pastinya tidak sesimpel yang dilakukan oleh bapak Warren. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar Berkshire Hathaway, arguably perusahaan investasi tersukses selama 50 tahun terakhir, tidak memiliki manajemen risiko yang se-sophisticated dan se-komprehensif lembaga keuangan pada umumnya?

“The spirit of compliance is as important or more so than the words of compliance” – Warren Buffet.

Jurnalis yang ada di podcast tersebut mengemukakan setidaknya 2 alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi:

1. Berkshire Hathaway/Warren Buffet tidak pernah melakukan kesalahan.

2. Punya keuangan yang luar biasa memadai.

Meskipun tidak dilengkapi dengan perangkat manajemen risiko yang “lengkap”, Berkshire tidak pernah diberitakan mengalami fraud ataupun merugi dalam jumlah material atas transaksi ang dilakukan oleh CEO-nya. Dari cerita di atas, bisa disimpulkan bahwa proses manajemen risiko ataupun proses bisnis yang dianut common practices oleh perusahaan tidak semuanya bisa diterapkan secara rigid, meski di perusahaan kelas dunia sekalipun. Selalu ada ruang terbuka yang bisa diinterpretasikan sebagai sebuah praktik manajemen risiko di suatu perusahaan. Pada intinya, common practices is not always the best practices. Meskipun demikian, kalau perusahaan anda adalah a common company, best to do things as others do. Otherwise, decide yourself.

Happy holiday! =)